Hikayat Gusala
Hikayat Gusala. Sebatang nyiur itu kini telah mulai menampakkan kecantikannya. Memang belum lagi setinggi anak berusia 10 tahun, namun pelepahnya yang menguning, yang sebagian masih terbungkus tapas, juga sebagian daunnya yang kuncup, mampu menyemarakkan pagi di pekarangan si pemilik. Kelak, entah 10 atau 20 tahun lagi, barulah nyiur itu mampu memberikan manfaat yang sebenarnya bagi si pemilik. Si pemilik adalah seorang petani berkulit hitam, sebagaimana umumnya orang asli Awangga. Sosoknya cukup besar bila dibandingkan manusia biasa, dan memang dia memiliki darah raksasa, yang diperolehnya entah dari bapak, kakek atau kakek buyutnya di masa lalu. Banyak penduduk Awangga yang memiliki ciri-ciri tubuh semacam itu. Kekar, besar, pendiam dan pemalu, namun, sekaligus pekerja keras yang tenaganya seakan tak ada habis-habisnya. Gusala, demikianlah orang memanggilnya. Mengapa dia dipanggil demikian dan siapa yang berhak menamainya demikian, dia tak tahu secara pasti. Memang, Gusal...