Pembalasan Inggris Atas Kematian Mallaby
Pembalasan Inggris Atas Kematian Mallaby
A.
Pendahuluan.
Sejak
tiba mendarat Surabaya, prajurit-prajurit Sekutu dari Brigade 49 begitu
tinggi semangat dan percaya dirinya.
“Mereka
baru saja mengalahkan pasukan Jepang, dari pertempuran Birma sampai Semenanjung
Malaya,” tulis Des Alwi dalam Pertempuran
Surabaya November 1945 (2012).
Pasukan
pimpinan Brigadir Mallaby yang tiba di Surabaya terdiri dari Batalyon
Infanteri Maratha yang terlatih dalam perang kota dan Batalyon Rajputna yang
mampu menjadi pasukan penghancur dengan senapan mesinnya. Brigade ini
dilengkapi kendaraan lapis baja, angkutan militer juga kesehatan militer.
Anggota brigade ini kebanyakan orang-orang India yang berdinas dalam militer
Inggris. Mereka yang bersorban biasanya orang Sikh, meski sering dikira Gurkha
yang biasanya bermata sipit dan tak bersorban. Ketika hendak mendarat di
Surabaya, mereka berpikir orang Surabaya tak terlatih memegang senjata dengan
baik. Tentu saja mereka salah.
Menurut
Des Alwi, setelah mendarat pasukan sekutu sadar bahwa militer Jepang sudah
tidak berkuasa lagi di Surabaya. Orang-orang di Jakarta,
menurut PRS Mani dalam Jejak Revolusi 1945 Sebuah Kesaksian Sejarah (1989), masih bisa
bersikap ramah terhadap militer Inggris. Namun orang Surabaya tidak begitu. Sejak
pendaratan mereka tak mendapatkan senyum damai dari pemuda Surabaya. Bahkan
belum seminggu mendarat, pasukan Inggris India ini malah kehilangan jenderal
yang jadi komandan brigade dalam sebuah kerusuhan di muka Gedung Internatio
pada 30 Oktober 1945. Tak heran jika Inggris marah. Lalu pembalasan pun teramat
kejam dan tanpa ampun.
B.
Inggris
Mengamuk.
Tanggal
1 November 1945,
HMS Sussex muncul
di Pelabuhan Tanjung Perak. Ada juga kapal-kapal lain yang mengangkut semua
orang-orang sipil Eropa yang baru dibebaskan dari kamp tawanan Jepang. Sekitar
6 ribu hingga 8 ribu orang bekas tawanan terangkut. Tentu saja kapal-kapal itu
tak datang dalam keadaan kosong.Dalam Revoloesi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946 (1988), Ben Anderson mengutip novelet Surabaya (1947) karya Idrus,
“Sejak
beberapa hari sekutu mendaratkan serdadu-serdadu lebih banyak dan tank-tank
raksasa. Tank-tank itu turun dari kapal seperti malaikat maut turun dari
langit: diam-diam dan dirahasiakan oleh orang yang menurunkannya.”
Meski
uraian Idrus berbentuk karya fiksi, namun keadaan Surabaya yang disaksikan
Des Alwi dan ditulis dalam
buku Pertempuran Surabaya
November (2012) tidak jauh dari gambaran Idrus. Selain ribuan
pasukan darat tank, panser dan meriam-meriam artileri juga diturunkan dari
kapal.
“Kematian
Mallaby menggarangkan Inggris yang mendatangkan Divisi V Malaya. Serta armada
Laksamana Peterson (yang terdiri satu kapal penjelajah dan tiga perusak),”
tulis A..H. Nasution dalam Memenuhi
Panggilan Tugas jilid I (1989).
Selain
itu, masih menurut Nasution,
“Inggris
mengirim satu brigade lagi dari Divisi ke-26 dari India ke Jawa dan 2 brigade
ke Sumatra. Menurut catatan Inggris serangannya tanggal 10 November di Surabaya
dengan satu divisi satu brigade serta Angkatan Udara dan Angkatan Lautnya.”
Menurut
"Report Proceedings for November 1945, Public record office, ref N0
203/5384/X/3.1426", seperti dikutip
Batara
R. Hutagalung dalam Pertempuran
Surabaya, pada 1 November 1945 Inggris mendaratkan 1500 pasukan melalui
kapal HMS Cavalier dan HMS Carron
.
Dua
hari kemudian, Panglima Divisi Infanteri Inggris India Kelima mendarat bersama
24 ribu prajurit yang diperkuat panser, tank dan meriam. Jika ditambah
sisa-sisa pasukan Mallaby, kekuatan Inggris mencapai sekitar 30 ribu
prajurit. Setelah urusan tawanan dianggap beres di Surabaya, maka
Jenderal Robert Mansergh memberi
ultimatum pada 9 November 1945 agar orang - orang Indonesia di Surabaya segera
menyerahkan senjata paling lambat pada pukul 6 pagi 10 November 1945. Mansergh
juga menuntut agar orang yang bertanggungjawab atas tewasnya Mallaby diserahkan
kepada Inggris sebagai wakil Sekutu di Surabaya. Ultimatum itu disebar dari
udara ke penjuru kota.
Menurut
Anderson, sudah jelas tujuan utama Mansergh adalah untuk memberikan hukuman
terhadap kematian Mallaby. Ultimatum itu dianggap Anderson hanyalah basa-basi.
“Jangka
waktu yang diberikan sangat tidak cukup untuk mengumpulkan senjata - senjata
yang begitu banyak. Kecil sekali kemungkinan akan diserahkan
‘pembunuh-pembunuh’ Mallaby; bahkan tidak pasti bahwa ia tidak ditembak oleh
orang-orangnya sendiri,” tulisan Anderson.
Mansergh tak
lupa menyuruh semua perempuan dan anak-anak harus sudah meninggalkan kota
sebelum pukul 19.00 malam. Isyarat hukuman mati dari militer Inggris sudah
tampak. Setelah pembicaraan tingkat tinggi di pihak Republik Indonesia,
akhirnya Gubernur Soerjo melalui radio pada pukul 23.00 malam menolak ultimatum
Inggris dan memutuskan Surabaya akan melawan sampai titik darah
penghabisan. Saat itu pasukan darat Divisi Kelima sudah ada di kota
Surabaya. Maka sejak pukul 06.00 tanggal 10 November 1045, Inggris
memperlihatkan cara perang modernnya pada Indonesia. Kapal-kapal perang
Kerajaan Inggis dan juga pesawat armada udara Inggris memuntahkan
peluru-pelurunya ke daratan Surabaya. Hingga senja, sepertiga Surabaya sudah
diduduki militer Inggris. Tembakan-tembakan itu memudahkan gerakan pasukan
Divisi Kelima Inggris untuk menguasai Surabaya yang hampir tiap sudutnya
berusaha dipertahankan mati-matian oleh pihak Republik.
“Di
pusat kota, pertempuran lebih dasyat, jalan-jalan harus diduduki satu persatu,
dari satu pintu ke pintu lainya. Mayat dari manusia, kuda-kuda, dan
kucing-kucing serta anjing-anjing bergelimpangan di selokan; gelas-gelas
berpecahan, perabot rumah tangga, kawat-kawat telepon bergelantungana di
jalan-jalan dan suara pertempuran menggema di tengah-tengah gedung-gedung
kantor yang kosong,” tulis David Wehl dalam Birth
of Indonesia (1949)
seperti di kutip Ben Anderson dalam Revoloesi
Pemoeda.
Menurut
Des Alwi, tidak benar pemuda Surabaya hanya mengandalkan bambu runcing saja
dalam menghadapi militer Inggris. Terdapat lebih dari 37 ribu pucuk
senjata api lengkap dengan pelurunya yang dibagikan ke kelompok pemuda. Senjata
ini adalah rampasan Jepang. Tentu saja tak semua personil di pihak Indonesia,
yang jumlahnya diperkirakan 120 ribu itu, menyandang senjata api. Sisanya
memang memakai senjata tradisional. Bayangkan, tulis David Wehl,
“Orang-orang
yang hanya bersenjatakan pisau-pisau belati menyerang tank-tank Sherman.”
Dari
takaran militer profesional, apa yang dilakukan pasukan para pejuang Surabaya
bukan lagi berani tapi nekad. Hingga korban banyak jatuh. Hanya sebagian saja
dari mereka yang pernah mendapat latihan militer, baik dari Jepang maupun
Belanda, pada masa sebelum perang.
C.
Modal
Dengkul dan Modal Nekad Melawan Inggris.
Terlatih
dan lengkapnya persenjataan 30 ribu serdadu Inggris - India membuat
pejuang Surabaya bertumbangan di banyak front. Apalagi Batalyon Infanteri
Maratha
terlatih dalam perang kota. Sementara Batalyon Rajputna punya senapan
mesin yang bisa memberondong banyak orang Indonesia yang tak jelas
persenjataannya. Meskipun orang-orang Indonesia bermodal dengkul dan nekat itu
melawan dengan mengerahkan lebih banyak manusia, toh itu tak sebanding. Jumlah
militer Indonesia di Surabaya secara pasti sulit ditemukan di buku - buku
sejarah maupun biografi para pelakunya. Ada pihak yang menaksir terdapat
sekitar 20 ribu anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR). Meski di Yogyakarta sudah
diresmikan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) nama BKR masih digunakan di Surabaya.
Anggota BKR biasanya bekas PETA, Heiho, KNIL dan pemuda yang tak pernah
mendapat latihan militer sama sekali. Sementara jumlah pemuda pejuang di luar
BKR diperkirakan mencapai 100 ribu orang. Jadi diperkirakan kekuatan pihak
Indonesia mencapai 120 ribu dengan persenjataan tak lebih 50 ribu.
“Perlawanan
Indonesia berlangsung dalam dua tahap. Pertama pengorbanan diri secara fanatik,
dengan orang-orang yang hanya bersenjatakan pisau - pisau belati menyerang tank
- tank Sherman, dan kemudian dengan cara yang lebih terorganisir dan efektif,
mengikuti dengan cermat buku - buku petunjuk militer Jepang,”
tulis David Wehl.
Menurut
Des Alwi, memasuki pekan kedua pertempuran, tembakan dari meriam-meriam
artileri Inggris dilakukan agak serampangan. Tidak berdasarkan titik tertentu
di daerah musuh, namun hanya ke arah musuh saja. Intensitas tembakan pun seolah
tanpa henti. Begitu juga meriam dari kendaraan lapis baja kavaleri
Inggris. Pertempuran ganas itu berlangsung tiga minggu. Kerugiannya luar
biasa besar.
Akhir
November, kota jatuh ke tangan Inggris sepenuhnya. Para pejuang republik yang
babak belur terpaksa mengungsi ke luar kota bersama pengungsi-pengungsi
lain. David Wehl, dengan sinis menulis,
“Jika
seandainya pertempuran - pertempuran seperti ini berlangsung di seluruh Jawa,
jutaan orang akan tewas dan baik Republik Indonesia maupun Hindia Timur Belanda
akan tenggelam dalam lauatan darah.”
Artinya,
prospek kemenangan bagi Indonesia sebenarnya kecil, justru korban akan sangat
amat banyak. Namun hal itu cukup mampu menciptakan kengerian yang mencekam bagi
Belanda juga. Wehl menulis lagi :
“Akan
tetapi, fanatisme dan kemarahan Surabaya yang luar biasa itu tidak pernah
terulang kembali, dan bahkan ketika perang terbuka antara Belanda dan Republik
Indonesia dimulai, tidak ada pertempuran yang dilancarkan Republik yang dapat
disebandingkan dengan pertempuran Surabaya, baik dalam keberanian maupun
kegigihannya.”
D.
Tewasnya
Dua Jenderal.
“Meski
tembakan senjata penangkis serangan udara, pasukan kita sering tidak akurat,
sampai tanggal 14 November 1945 mereka (mengklaim) sudah berhasil merontokan
tujuh pesawat musuh. Dan tidak boleh dinafikan, sebuah lucky
blow bahkan telah memangsa seorang perwira tinggi Inggris. Korban
dengan pangkat tertinggi selama babak kedua pertempuran Surabaya,”
tulis Des Alwi.
Sebuah
pesawat yang dipiloti Letnan Osborn yang ditumpangi
Brigadir Robert Guy Loder-Symonds jatuh pada pukul 09.50 pada 10 November, hari pertama pertempuran Surabaya itu.
Brigadir Robert Guy Loder-Symonds jatuh pada pukul 09.50 pada 10 November, hari pertama pertempuran Surabaya itu.
Sementara,
Mayor Jenderal Mansergh dan media Belanda menyebut pesawat itu jatuh karena
kecelakaan ketika sedang lepas landas dari lapangan terbang Morokrembangan.
Pesawat itu terbakar dan jatuh Loder-Symonds. Salah satu yang menumpang pesawat
tersebut adalah Komandan Kesatuan Artileri Militer Inggris. Kematiannya
menambah koleksi korban jenderal pihak Inggris yang selalu diceritakan dengan
bangga orang-orang Indonesia. Sebelum 10 November saja, pihak republik
mencatat seorang perwira tinggi, 15 perwira dan 217 prajurit Inggris - India
terbunuh. Hingga berakhirnya pertempuran 10 November, terdapat 600 korban di
pihak Inggris - India menurut taksiran Woodburn
Kirby dalam The War Against Japan (1965). Tentu saja pihak
Republik lebih besar dalam jumlah korban.
Menurut Merle Calvin Ricklefs,
dalam A History of Modern
Indonesia Since c. 1300, terdapat 6 ribu korban di pihak
Indonesia. Jika diasumsikan kekuatan Republik Indonesia sekitar 120 ribu
dan Inggris 30 ribu, maka perbandingan kuantitas sebenarnya mencapai 4:1. Akan
tetapi itu perbandingan kuantitatif, bukan kualitatif yang menghitung keahlian
dan persenjatan. Jika melihat persentase jumlah korban, korban dari pihak
Indonesia diperkirakan mencapai 5 persen. Sementara Inggris hanya kehilangan 1
persen dari keseluruhan anggota militernya di Surabaya. Jika dilihat dari
wilayah yang diduduki Inggris di Surabaya hingga akhir November 1945, maka
Inggris adalah pemenang pertempuran tersebut.Kemenangan bagi Republik Indonesia
terletak pada kemenangan mental. Meski harus terpukul mundur ke luar kota dan
menelan korban yang jauh lebih banyak, Indonesia -- melalui arek Suroboyo--
memperlihatkan daya tahan yang hebat menghadapi gempuran Inggris. Keberhasilan
menewaskan dua perwira tinggi yang pangkatnya setara jenderal pun menjadi
catatan yang menginjeksi moral para pejuang. Kenekatan para pejuang
Surabaya itu juga menerbitkan sikap yang lebih respek dari Inggris kepada
Indonesia. Kendati tahu mereka akan tetap memenangkan pertempuran andaikan
terjadi insiden lain dengan Indonesia, Inggris tak mau lagi sembrono. Mereka
sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa mengerikannya kenekatan
para pejuang Surabaya. Terlalu mahal ongkosnya jika harus mengulangi
pertempuran dengan arek-arek Suroboyo. Para pejuang Indonesia, bisa dikatakan,
menguatkan moralnya dengan mengangkat gelas untuk Mallaby (Baca Juga : Mengenal Sosok Brigadir Mallaby ) dan Loder















Comments
Post a Comment