Manifesto Politik 1925, Kongres Pemuda tahun 1928, Kongres Perempuan
A.
Manifesto
Politik 1925.
Manifesto
politik merupakan pandangan terbuka tentang negara. Organisasi pergerakan
yang secara langsung dan terbuka berani memberikan pernyataan politik yang
berkaitan dengan nasib dan masa depan bangsa Indonesia adalah Perhimpunan
Indonesia (PI)
. Konsep-konsep manifesto politik Perhimpunan Indonesia sebenarnya telah dimunculkan dalam Majalah Hindia Poetra, edisi Maret 1925. Akan tetapi, Perhimpunan Indonesia baru menyampaikan manifesto politiknya secara tegas pada awal tahun 1925 yang kemudian dikenal sebagai Manifesto Politik 1925 yang isinya sebagai berikut : “Masa depan rakyat Indonesia secara eksklusif dan semata-mata terletak dalam bentuk suatu pemerintahan yang bertanggung jawab kepada rakyat dalam arti yang sebenar-benarnya, karena hanya bentuk pemerintahan yang seperti itu saja yang dapat diterima oleh rakyat. Setiap orang Indonesia haruslah berjuang untuk tujuan ini sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya, dengan kekuatan dan usahanya sendiri, tanpa bantuan dari luar. Setiap pemecah belahan kekuatan bangsa Indonesia dalam bentuk apapun haruslah ditentang, karena hanya dengan persatuan yang erat di antara putra-putra Indonesia saja yang dapat menuju kearah tercapainya tujuan bersama”.
. Konsep-konsep manifesto politik Perhimpunan Indonesia sebenarnya telah dimunculkan dalam Majalah Hindia Poetra, edisi Maret 1925. Akan tetapi, Perhimpunan Indonesia baru menyampaikan manifesto politiknya secara tegas pada awal tahun 1925 yang kemudian dikenal sebagai Manifesto Politik 1925 yang isinya sebagai berikut : “Masa depan rakyat Indonesia secara eksklusif dan semata-mata terletak dalam bentuk suatu pemerintahan yang bertanggung jawab kepada rakyat dalam arti yang sebenar-benarnya, karena hanya bentuk pemerintahan yang seperti itu saja yang dapat diterima oleh rakyat. Setiap orang Indonesia haruslah berjuang untuk tujuan ini sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya, dengan kekuatan dan usahanya sendiri, tanpa bantuan dari luar. Setiap pemecah belahan kekuatan bangsa Indonesia dalam bentuk apapun haruslah ditentang, karena hanya dengan persatuan yang erat di antara putra-putra Indonesia saja yang dapat menuju kearah tercapainya tujuan bersama”.
Manifesto politik 1925 mengandung 4
pokok pikiran :
1. Kesatuan
nasional mengesampingkan perbedaan dan membentuk aksi melawan Belanda
serta menciptakan Negara kebangsaan Indonesia yang merdeka dan bersatu.
2. Solidaritas yang
disebabkan adanya pertentang kepentingan di antara penjajah dan terjajah serta
tajamnya konflik diantara kulit putih dan sawo matang.
3. Non
kooperasi yaitu kemerdekaan bukan hadiah Belanda, tetapi harus direbut
dengan mengandalkan kekuatan sendiri.
4. Swadaya mengandalkan
kekuatan sendiri dengan mengembangkan struktur alternatif dalam kehidupan
nasional, politik, sosial, ekonomi, dan hukum yang sejajar dengan administrasi
kolonial.
B.
Kongres
Pemuda tahun 1928.
1.
Kongres
Pemuda I (30 April-2 Mei 1926 di Jakarta) yang dipimpin
oleh Muhammad Tabrani Soerjowitjitro.
a.
Tujuan kongres ini adalah
menanamkan semangat kerja sama antar perkumpulan pemuda di Indonesia untuk
menjadi dasar bagi persatuan Indonesia.
b.
Dalam kongres ini dihasilkan
keputusan berupa :
1. Mempersiapkan
kongres pemuda Indonesia.
2. Mengusulkan
semua perkumpulan pemuda agar bersatu
dalam organisasi pemuda Indonesia.
a.
Di
mana struktur dari kongres ini yaitu :
1.
Pemimpin kongres Sugondo
Joyopuspito.
2.
Wakil ketua Djoko Marsaid.
5.
Pembantu Djohan Tjain, Kotjo
Sungkono, Senduk, J. Leimena, Rohjani.
b.
Wakil
- wakil yang menghadiri kongres
1.
Wakil-wakil organisasi pemuda (Jong
Java, Jong Sumatranen Bond, PI, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Jong Batak,
Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi, dan PPPI).
2.
Wakil-wakil dari partai (NU, PNI,
PSI).
3.
Pejabat - pejabat pemerintah
Belanda.
c.
Keputusan dari
kongres ini antara lain :
1.
Mengucapkan ikrar Sumpah Pemuda
(Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa Indonesia).
2.
Lagu Indonesia Raya ditetapkan
sebagai lagu kebangsaan Indonesia.
3.
Sang Merah Putih ditetapkan menjadi
bendera Indonesia.
4.
Semua organisasi pemuda dilebur
menjadi satu dengan nama Indonesia Muda.
C. Kongres Perempuan.
Pergerakan
kaum perempuan dipelopori R.A. Kartini dari Jepara yang mendirikan Sekolah
Kartini. Setelah itu banyak perkumpulan -
perkumpulan yang menjadi wadah aspirasi permpuan diantaranya :
1. Putri
Mardiko di Jakarta,
2. Kautaman
Istri di Tasikmalaya,
3. Kartinifonds
(Dana Kartini) di Semarang,
4. Aisyah
di Yogyakarta,
5. Budi
Wanita di Solo,
6. Istri
Sedar di Bandung,
7. Ina
Tani di Ambon,
8. Wanita
Rukun Santosa di Malang,
9. Percintaan
Ibu kepada Anak Turunnya di Minahasa.
Dalam
perkembangannya, perkumpulan-perkumpulan tersebut melaksanakan kongres yang
dikenal dengan “Kongres Perempuan
Indonesia” yaitu :
1.
Kongres
Perempuan I.
Diselenggarakan tanggal 22-25 Desember
1928 di Jakarta. Dalam kongres ini membentuk Perserikatan Perempuan Indonesia
(PPI) yang dipimpin Ny. Sukanto.
Tujuan
kongres ini yaitu :
a. memberi
penerangan dan perantaraan kepada perkumpulan yang menjadi anggotanya.
b. membantu
dana belajar pada anak perempuan yang pandai.
c. mengadakan
kursus kesehatan.
d. menentang
perkawinan anak-anak.
e. memajukan
kepanduan bagi anak - anak perempuan.
Dalam kongresnya pada tanggal 28-31
Desember 1929 di Jakarta, mengubah nama PPI menjadi PPII (Perikatan Perhimpunan
Istri Indonesia).
2.
Kongres
Perempuan II.
Diselenggarakan tanggal 20-24 Juli 1935
di Jakarta yang dipimpin oleh Ny. Sri Mangunsarkoro. Dalam kongres ini
membicarakan tentang masalah persatuan di kalangan wanita, masalah wanita dalam
keluarga, masalah poligami dan perceraian serta sikap yang harus diambil
terhadap kolonialisme Belanda.
3.
Kongres
Perempuan III.
Diselenggarakan tanggal 23-28 Juli 1938 di Bandung
yang dipimpin oleh Ny. Emma Puradireja. Dalam kongres ini membicarakan tentang
Undang-undang perkawinan modern, persoalan politik yang kaitannya dengan hak
pilih dan dipilih bagi kaum wanita untuk posisi Badan Perwakilan (volksraad),
dan menetapkan tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu.





Comments
Post a Comment