Mengenal Sosok A. Hassan – Tokoh Persis
Mengenal Sosok A. Hassan – Tokoh Persis
Suatu hari di tahun
1929, terdengar obrolan dari sebuah rumah sederhana yang terhimpit di Gang
Pakgade, jalan sempit persis di belakang Pegadaian Negeri Bandung. Seorang
lelaki muda tampak berbincang dengan si empunya rumah yang berusia lebih tua. Datuk
Alimin Sati
, nama pemuda itu, yang bercerita tentang maraknya pelecehan terhadap Islam dari mulut orang - orang yang disebutnya kaum sekuler, juga mereka yang berhimpun di dalam golongan kebatinan. Mendengar aduan itu, reaksi yang ditunjukkan tuan rumah sama sekali tak terduga. Dengan suara lantang, ia menghardik keras,
, nama pemuda itu, yang bercerita tentang maraknya pelecehan terhadap Islam dari mulut orang - orang yang disebutnya kaum sekuler, juga mereka yang berhimpun di dalam golongan kebatinan. Mendengar aduan itu, reaksi yang ditunjukkan tuan rumah sama sekali tak terduga. Dengan suara lantang, ia menghardik keras,
”Bila Tuan mendengar
Islam direndahkan orang di depan Tuan, maka saat itu juga dengan cepat Tuan
harus berpikir, Tuan orang Islam atau bukan?. Kalau Tuan merasa bukan orang
Islam, masa bodo, habis perkara, tak ada persoalan lagi!”.
“Tapi kalau Tuan merasa seorang Islam, maka
Tuan harus berpikir, siapa lagi yang akan membela Islam di saat seperti itu
selain Tuan? Bulatkan tekad, Islam harus Tuan bela!” tambahnya.
Siapakah sebenarnya
pria pemilik rumah yang nyaris naik darah gara-gara tak terima agamanya
dinistakan itu?. Orang mengenalnya dengan nama Ahmad Hassan, atau cukup sebagai
A. Hassan saja. Bukan orang asli Bandung, tapi pendatang keturunan Tamil,
India, yang kala itu berusia 42 tahun. Pertamakali datang ke Kota Kembang pada
1924 dengan maksud awal mempelajari kerajinan tenun, A. Hassan justru tertarik
dengan kehadiran Persis (Persatuan Islam), sebuah perhimpunan yang didirikan
beberapa bulan sebelumnya, 12 September 1923. Ia bergabung dengan Persis pada
1926 dan diangkat sebagai guru utama ( Howard M. Federspiel, Persatuan
Islam : Islamic Reform in Twentieth Century Indonesia, hal. 25).
A.Hassan menjadi
panutan bagi para aktivis pergerakan nasional di Bandung saat itu, terutama
dari kalangan intelektual muslim. Datuk Alimin Sati adalah salah satunya. Sati
adalah rekan Mohammad Natsir, pemuda asli Minang yang kelak menduduki posisi
sebagai Perdana Menteri Indonesia dan kerap berselisih paham dengan sang
presiden, Sukarno.
Natsir memang terpikat oleh sosok A. Hassan. Seperti disebut Artawijaya dalam buku Belajar dari Partai Masjumi, ia adalah orang yang menginspirasi dan membentuk karakter Natsir. Kesederhanaan hidup, ketekunan, dan buah pikiran A. Hassan yang tajam kelak di kemudian hari seolah diwariskan kepada Natsir (2008:4).
Natsir memang terpikat oleh sosok A. Hassan. Seperti disebut Artawijaya dalam buku Belajar dari Partai Masjumi, ia adalah orang yang menginspirasi dan membentuk karakter Natsir. Kesederhanaan hidup, ketekunan, dan buah pikiran A. Hassan yang tajam kelak di kemudian hari seolah diwariskan kepada Natsir (2008:4).
Di Bandung, Sati dan
Natsir bersekolah di Algemeene Middelbare School (AMS) dan sama-sama penggiat
Jong Islamieten Bond (JIB). Keduanya serta banyak anak muda lainnya kerap
berkunjung ke kediaman A. Hassan untuk berdiskusi atau sekadar berbincang
ringan tentang apapun. Selaras dengan Persis yang mengusung misi pemurnian
Islam sesuai ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad, A. Hassan selalu pasang
badan jika agamanya dihina. Namun, bukan dengan berteriak - teriak menghujat
atau bahkan main tangan, ia dengan elegan menghadapi lawan - lawannya lewat adu
pemikiran baik melalui tulisan maupun diselesaikan di meja debat. Bukan hanya
Agus Salim atau Sukarno saja yang dikenal sebagai singa podium di era
pergerakan nasional waktu itu. A. Hassan pun tak kalah jago. Ia adalah pakarnya
debat, apalagi jika menyangkut martabat Islam yang memang cukup dikuasainya.
Tulisannya juga tajam dan mengena karena ia pernah berkarier sebagai jurnalis
di suratkabar terbitan Singapura, Utusan Melayu. Tantangan perdebatan terkait
perbedaan keyakinan memang cukup mencuat di akhir dasawarsa kedua abad ke-20
itu. Atas arahan A. Hassan, Natsir dan kawan-kawan mendirikan laskar bernama
Komite Pembela Islam untuk membendung propaganda misionaris Kristen yang kala
itu memang cukup massif di Hindia Belanda. Ketika datang tantangan polemik dari
seorang pendeta Protestan bernama A.C.
Christoffels lewat ceramahnya yang bertajuk “Mohammed als Proofet” pada 1929 yang dimuat di
suratkabar Algemeene Indisch Dagblad (AID), A. Hassan meminta Natsir
untuk membalas serangan tersebut, lewat media yang sama. Pendeta Christoffels
sempat balik membalas melalui AID, namun surat kabar berbahasa Belanda itu
menolak balasan berikutnya dari kubu Natsir. Tak putus akal, A. Hassan lalu
memprakarsai penerbitan majalah Pembela Islam sebagai media untuk
menangkal bermacam serangan kalam yang datang.
Dua tahun berselang,
sebuah artikel yang sangat polemis juga memicu reaksi A. Hassan. Penulis
artikel adalah J.J. Ten Berge
, seorang pastur Katolik dari Ordo Jesuit, yang menuliskan kritik tajam terhadap kitab suci umat Islam melalui jurnal Studien. Sempat dibalas Natsir lewat Majalah Pembela Islam Nomor33/1931, A. Hassan akhirnya turun gelanggang karena menilai ulah Ten Berge sudah keterlaluan. A. Hassan menantang sang pastur debat terbuka.
, seorang pastur Katolik dari Ordo Jesuit, yang menuliskan kritik tajam terhadap kitab suci umat Islam melalui jurnal Studien. Sempat dibalas Natsir lewat Majalah Pembela Islam Nomor33/1931, A. Hassan akhirnya turun gelanggang karena menilai ulah Ten Berge sudah keterlaluan. A. Hassan menantang sang pastur debat terbuka.
“Di tempat mana yang
dia sukai, dan dalam bahasa apa yang dia maui, dan kalau dia bersedia datang ke
Bandung, ongkos jalan dan penginapannya akan dibayar oleh Komite Pembela
Islam,” demikian tantangan A. Hassan kepada Ten Berge seperti dikutip dari
Artawijaya (2008:7).
Tantangan debat terbuka
dalam skala yang lebih besar kembali dilayangkan oleh A. Hassan yang mewakili
Persis pada 1933. Kali ini bukan kepada tokoh Kristen, tapi Ahmadiyah yang saat
itu dimotori Maulana Rahmat Ali
. Persinggungan antara dua kubu ini sebenarnya diawali dengan polemik lewat media, Ahmadiyah menggunakan majalah Sinar Islam, sementara Persis tetap dengan Pembela Islam. Mengangkat tema “Hidup dan Matinya Nabi Isa” debat terbuka ini ternyata diminati lebih dari 1.000 orang di Gedung Societeit Ons Genoegen Bandung . Debat kedua di Batavia lebih ramai lagi dengan hadirnya 2.000 orang.
. Persinggungan antara dua kubu ini sebenarnya diawali dengan polemik lewat media, Ahmadiyah menggunakan majalah Sinar Islam, sementara Persis tetap dengan Pembela Islam. Mengangkat tema “Hidup dan Matinya Nabi Isa” debat terbuka ini ternyata diminati lebih dari 1.000 orang di Gedung Societeit Ons Genoegen Bandung . Debat kedua di Batavia lebih ramai lagi dengan hadirnya 2.000 orang.
Pada edisi ketiga tahun
1934, juga dihelat di Batavia, penonton yang ingin menyaksikan aksi A. Hassan
tercatat lebih dari 1.500 orang (Catur Wahyudi, Marginalisasi dan
Keberadaan Masyarakat, 2015:63).
A. Hassan pernah pula
beradu argumen dengan sesama tokoh Islam seperti Hasbi ash-Shiddieqy soal jabat
tangan lelaki - perempuan bukan muhrim, dengan
Wahab Hasbullah tentang taklid, dengan Umar Hubeis , Bey Arifin, dan Husein Al-Habsyi tentang mazhab , bahkan dengan Hamka mengenai kebangsaan, sempat juga berdebat dengan tokoh atheis asal Malang, M. Ahsan (Mohammad Herry, Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, 2006:19).
Wahab Hasbullah tentang taklid, dengan Umar Hubeis , Bey Arifin, dan Husein Al-Habsyi tentang mazhab , bahkan dengan Hamka mengenai kebangsaan, sempat juga berdebat dengan tokoh atheis asal Malang, M. Ahsan (Mohammad Herry, Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, 2006:19).
Sebelum Natsir terlibat
perdebatan sengit dengan Sukarno yang akhirnya berujung pengunduran dirinya
sebagai Perdana Menteri Indonesia pada 26 April 1951, A. Hassan sudah lebih dahulu
berdebat dengan Sukarno
. Tema besar yang diperdebatkan kurang lebih sama, yakni terkait posisi agama dan negara dalam pemerintahan. Ia secara tegas menentang pemerintahan yang diatur dengan cara sekuler. A. Hassan meminta kepada umat Islam ketika itu untuk bersabar dalam perjuangan karena menurutnya, melakukan konfrontasi fisik dengan sesama anak bangsa dalam konteks negara yang baru merdeka hanya akan menimbulkan kekacauan yang besar.
. Tema besar yang diperdebatkan kurang lebih sama, yakni terkait posisi agama dan negara dalam pemerintahan. Ia secara tegas menentang pemerintahan yang diatur dengan cara sekuler. A. Hassan meminta kepada umat Islam ketika itu untuk bersabar dalam perjuangan karena menurutnya, melakukan konfrontasi fisik dengan sesama anak bangsa dalam konteks negara yang baru merdeka hanya akan menimbulkan kekacauan yang besar.
“Yang dikejar tidak
dapat, yang dikandung berceceran,” begitu kata A. Hassan
(Tiar Anwar Bachtiar, Risalah Politik A. Hassan, 2013:158).
Meskipun begitu,
hubungan A. Hassan dan Sukarno jauh dari permusuhan. Polemik dan debat di
antaranya keduanya berlangsung dalam atmosfir intelektual, yang betapa pun
kerasnya masih menjunjung tinggi respek kepada yang lain. Beberapa kali
keduanya tampak mesra dan saling memberi dukungan. Bagi Sukarno, A. Hassan
adalah sahabat sekaligus guru dalam mempelajari Islam. Tokoh nasionalis ini
mengaku sangat mengagumi karya - karya A. Hassan yang seabrek jumlahnya itu. Bahkan,
selama menjalani pembuangan di Ende, Flores, sejak 1934, Sukarno rutin berkirim
surat untuk A. Hassan. Perdebatan lewat guratan pena di atas kertas pun masih
berlangsung dalam korespondensi ini kendati tetap dalam nuansa yang elegan dan
mencerahkan. A. Hassan memang cukup identik sebagai seorang intelektual muslim
berkarakter keras dan lugas ketika harus membela keyakinan dan agama yang
dipeluknya. Namun, di balik “Kekolotan” tersebut, A. Hassan sangat membumi dan
humanis di kehidupan sehari-harinya. Ia memang sangat bergairah mendebat dan
berpolemik, namun caranya berpolemik tidaklah dengan menggunakan mimbar untuk
melancarkan caci maki. A. Hassan melakukannya dengan tenang, dingin, elegan,
dan tutur kata yang serba terukur.
Tepat pada 1940, A.
Hassan pindah dari Bandung ke Jawa Timur, tepatnya di Pasuruan. Di suatu desa
kecil bernama Bangil, ia mendirikan pondok pesantren yang masih bertautan
dengan haluan yang selama ini melekat pada dirinya, Persis.
Tanggal 10 November
1958, A. Hassan wafat, mewariskan puluhan karya yang masih mengabadi hingga
kini.

















Comments
Post a Comment