Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL).
A. Pengertian Model Pembelajaran
PBL .
Problem
Based Learning (PBL) dalam bahasa Indonesia disebut Pembelajaran Berbasis
Masalah (PBM) merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan
untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk
menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada. Model PBL
dikembangkan berdasarkan konsep-konsep yang dicetuskan oleh Jerome Bruner
.
Konsep tersebut adalah belajar penemuan atau discovery learning. Konsep
tersebut memberikan dukungan teoritis terhadap pengembangan model PBL yang
berorientasi pada kecakapan memproses informasi.
Berikut ini beberapa pengertian
Model Pembelajaran Problem Based Learning dari beberapa Para Ahli Pendidikan :
1.
Barbara
J. Duch (1996).
Problem Based Learning (PBL) adalah satu
model yang ditandai dengan penggunaan masalah yang ada di dunia nyata untuk
melatih siswa berfikir kritis dan terampil memecahkan masalah, dan memperoleh
pengetahuan tentang konsep yang penting dari apa yang dipelajari (Wijayanto,
2009:15).
2.
Suyatno
(2009).
Problem Based Learning (PBL) merupakan
suatu model pembelajaran yang berbasis pada masalah, dimana masalah tersebut
digunakan sebagai stimulus yang mendorong mahasiswa menggunakan pengetahuannya
untuk merumuskan sebuah hipotesis, pencarian informasi relevan yang bersifat
student-centered melalui diskusi dalam sebuah kelompok kecil untuk mendapatkan
solusi dari masalah yang diberikan.
3.
Richard
i. Arends.
PBL merupakan suatu pendekatan
pembelajaran dimana siswa dihadapkan pada masalah autentik (nyata) sehingga
diharapkan mereka dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan
keterampilan tingkat tinggi dan inkuiri, memandirikan siswa, dan meningkatkan
kepercayaan dirinya (Trianto, 2007).
4.
Sanjaya
(2006: 214).
Problem Based Learning (PBL) merupakan
rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian
masalah yang dihadapi secara ilmiah. Hakekat permasalahan yang diangkat dalam
Problem Based Learning adalah gap atau kesenjangan antara situasi nyata dengan
situasi yang diharapkan, atau antara yang terjadi dengan harapan.
B. Karakteristik Model Pembelajaran
PBL .
Menurut
Trianto (2009:93), karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning
(PBL) adalah :
1. Adanya
pengajuan pertanyaan atau masalah.
2. Berfokus
pada keterkaitan antar disiplin.
3. Penyelidikan
autentik.
4. Menghasilkan
produk atau karya dan mempresentasikannya.
5. Kerja
sama.
Menurut Rusman (2010:232),
karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah sebagai
berikut :
1. Permasalahan
menjadi starting point dalam belajar.
2. Permasalahan
yang diangkat adalah permasalahan yang ada di dunia nyata yang tidak
terstruktur.
3. Permasalahan
membutuhkan perspektif ganda (multiple perspective).
4. Permasalahan
menantang pengetahuan yang dimiliki oleh siswa, sikap, dan kompetensi yang
kemudian membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam
belajar.
5. Belajar
pengarahan diri menjadi hal yang utama.
6. Pemanfaatan
sumber pengetahuan yang beragam, penggunaannya, dan evaluasi sumber informasi
merupakan proses yang esensial dalam problem based learning.
7. Belajar
adalah kolaboratif, komunikasi, dan kooperatif.
8. Pengembangan
keterampilan inquiry dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan
isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan.
9. Sintesis
dan integrasi dari sebuah proses belajar.
10. Problem
based learning melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses
belajar.
C. Tujuan Model Pembelajaran PBL.
Tujuan
yang ingin dicapai oleh PBL adalah kemampuan siswa untuk berpikir kreatif,
analitis, sistematis, dan logis untuk menemukan alternatif pemecahan masalah
malalui eksplorasi data secara empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah.
Berikut ini beberapa tujuan
pembelajaran menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) :
1.
Mengembangkan
keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah.
Proses-proses berpikir tentang ide-ide
abstrak berbeda dari proses-proses yang digunakan untuk berpikir tentang
situasi-situasi dunia nyata. Resnick menekankan pentingnya konteks dan
keterkaitan pada saat berpikir tentang berpikir yaitu meskipun proses berpikir
memiliki beberapa kasamaan antara situasi, proses itu bervariasi tergantung
dengan apa yang dipikirkan seseorang dalam memecahkan masalah.
2.
Belajar
peran orang dewasa.
Problem Based Learning (PBL) juga
dimaksudkan untuk membantu siswa berkinerja dalam situasi-situasi kehidupan
nyata dan belajar peran-peran penting yang biasa dilakukan oleh orang dewasa.
Resnick mengemukakan bahwa bentuk pembelajaran ini penting untuk menjembatani
kerjasama dalam menyelesaikan tugas, memiliki elemen-elemen belajar magang yang
mendorong pengamatan dan dialog dengan yang lain sehingga dapat memahami peran
di luar sekolah.
3.
Keterampilan
- keterampilan untuk belajar mandiri .
Guru yang secara terus menerus
membimbing siswa dengan cara mendorong dan mengarahkan siswa untuk mengajukan
pertanyaan dan memberi penghargaan untuk pertanyaan-pertanyaan berbobot yang
mereka ajukan, dengan mendorong siswa mencari solusi / penyelesaian terhadap
masalah nyata yang dirumuskan oleh siswa sendiri, maka diharapkan siswa dapat
belajar menangani tugas-tugas pencarian solusi itu secara mandiri dalam
hidupnya kelak.
D. Langkah - Langkah Penggunaan Model
Pembelajaran PBL
Langkah-langkah
operasional dalam proses pembelajaran yang dikonsepkan oleh Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan adalah sebagai berikut :
1.
Konsep
Dasar (Basic Concept).
Fasilitator memberikan konsep dasar,
petunjuk, referensi, atau link dan skill yang diperlukan dalam pembelajaran
tersebut. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik lebih cepat masuk dalam
atmosfer pembelajaran dan mendapatkan peta yang akurat tentang arah dan tujuan
pembelajaran.
2.
Pendefinisian
Masalah (Defining The Problem).
Dalam langkah ini fasilitator
menyampaikan scenario atau permasalahan dan peserta didik melakukan berbagai
kegiatan brainstorming dan semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide,
dan tanggapan terhadap scenario secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul
berbagai macam alternative pendapat.
3.
Pembelajaran
Mandiri (Self Learning).
Peserta didik mencari berbagai sumber
yang dapat memperjelas isu yang sedang dinvestigasi. Sumber yang dimaksud dapat
dalam bentuk artikel tetulis yang tersimpan dipepustakaan, halaman web, atau
bahkan pakar dalam bidang yang relevan.
Tahap
investigasi memiliki dua tujuan utama,yaitu :
A. Agar
peserta didik mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang relevan dengan
permasalahan yang telah didiskusikan dikelas.
B. Informasi
dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dipresentasikan di kelas dan informasi
tersebut haruslah relevan dan dapat dipahami.
4.
Pertukaran
Pengetahuan (Exchange Knowledge).
Setelah mendapatkan sumber untuk
keperluan pendalaman materi dalam langkah pembelajaran mandiri, selanjutnya
pada pertemuan berikutnya peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya untuk
mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan kelompok.
Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara peserta didik berkumpul
sesuai kelompok dan fasilitatornya.
5.
Penilaian
(Assessment).
Penilaian dilakukan dengan memadukan
tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude).
Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan
pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah
semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan.
E. Kelebihan dan Kelemahan Model
Pembelajaran PBL .
Setiap
model pembelajaran biasanya memiliki kelebihan dan kelemahan. Berikut ini
merupakan keunggulan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL),
yaitu sebagai berikut (Sanjaya, 2006:220) :
1. Pemecahan
masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran
sehingga pembelajaran lebih bermakna.
2. Pemecahan
masalah dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk
menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
3. Pemecahan
masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
4. Pemecahan
masalah dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan siswa untuk
memahami masalah dalam kehidupan nyata.
5. Pemecahan
masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan
bertanggungjawab dalam pembelajaran yang dilakukan. Disamping itu, pemecahan
masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap
hasil maupun proses belajarnya.
6. Melalui
pemecahan masalah bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran
pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh
siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku saja.
7. Pemecahan
masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.
8. Pemecahan
masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan menyesuaikan
dengan pengetahuan baru.
9. Pemecahan
masalah dapat memberikan kesempatan siswa untuk menerapkan pengetahuan yang
dimiliki dalam dunia nyata.
10. Pemecahan
masalah dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus menerus belajar,
sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
Adapun
kelemahan-kelemanan dari penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning
(PBL), adalah sebagai berikut (Sanjaya, 2006:221) :
1. Manakala
siswa tidak memiliki minat atau siswa berasumsi bahwa masalah yang dipelajari
sulit untuk dipecahkan, maka akan merasa enggan untuk mencoba.
2. Keberhasilan
model pembelajaran melalui Problem Based Learning membutuhkan cukup waktu untuk
persiapan.
3. Tanpa
pemahaman mengapa siswa berusaha memecahkan masalah yang dipelajari, maka siswa
tidak akan belajar apa yang ingin dipelajari.
















Comments
Post a Comment