Kehidupan Manusia Pada Masa Praaksara (IPS Terpadu SMP Kelas 7 – Halaman 194 s/d 222)
Kehidupan Manusia Pada Masa
Praaksara (IPS Terpadu SMP Kelas 7 – Halaman 194 s/d 222)
1. Mengenal Masa Praaksara
Masa
praaksara merupakan salah satu periode dalam kehidupan manusia ketika manusia
yang belum mengenal tulisan. Praaksara berasal dari gabungan kata yaitu pra dan
aksara. Pra artinya sebelum dan aksara berarti tulisan. Dengan demikian, yang
dimaksud masa praaksara adalah masa sebelum manusia mengenal tulisan. Masa
praaksara disebut juga dengan masa “Nirleka”
(nir artinya tidak ada, leka artinya tulisan), yaitu masa tidak ada tulisan.
Masa praaksara dikenal pula dengan masa prasejarah.
Mengapa
tulisan menjadi pembatas waktu masa praaksara ?. aksara atau tulisan adalah
hasil kebudayaan manusia. Fungsi utama dari aksara ini adalah untuk
berkomunikasi dan membaca tentang sesuatu. Sekelompok manusia yang telah
mengenal tulisan, biasanya meninggalkan catatan – catatan tertulis kepada
generasi berikutnya. Catatan itu dapat berupa Batu Bertulis (Prasasti) dan
naskah – naskah kuno. Dari catatan tertulis tersebut, kita dapat mengetahui
kehidupan orang – orang zaman dahulu. Dengan demikian, penemuan aksara
merupakan faktor penting untuk mengetahui suatu peradaban.
Kapan
waktu dimulainya masa praaksara dan kapan berakhirnya ?. Masa praaksara dimulai
sejak manusia ada, itulah titik dimulainya masa praaksara. Adapun waktu
berakhirnya masa praaksara adalah setelah manusia mulai mengenal tulisan.
Berakhirnya masa praaksara tidak sama bagi tiap – tiap bangsa. Misalnya bangsa
Mesir dan Mesopotamia, mereka telah mengenal tulisan kira – kira 3000 tahun
Sebelum Masehi. Artinya, mereka telah meninggalkan masa praaksara kira – kira
3000 Sebelum Masehi. Adapun masyarakat Indonesia mulai mengenal tulisan sekitar
abad ke – 5 Masehi. Hal ini diketahui dari Yupa (batu bertulis peninggalan
Kerajaan Kutai) yang terdapat di Muara Kaman, Kalimantan Timur. Dengan
demikian, bangsa Indonesia meninggalkan masa praaksara pada abad ke – 5 Masehi.
Sebagaimana
dijelaskan sebelumnya, pada masa praaksara manusia belum mengenal tulisan, maka
tidak ada peninggalan tertulis dari masa praaksara. Lalu bagaimanakah cara
mengetahui kehidupan manusia pada masa praaksara tersebut ?. Kehidupan manusia
pada masa praaksara dapat dipelajari melalui peninggalan – peninggalan yang
ditinggalkan oleh manusia yang hidup pada waktu itu. Peninggalan itu dapat
berupa artefak dan fosil. Artefak membantu kita untuk memperkirakan bagaimana
perkembangan kehidupan manusia dan fosil membantu untuk mengetahui pertumbuhan
fisik makhluk hidup pada masa praaksara.
2. Periodisasi Masa Praaksara.
Sejarah
alam semesta lebih panjang jika dibandingkan dengan sejarah kehidupan manusia
di muka bumi. Manusia pertama kali muncul di muka bumi kira – kira tiga juta
tahun yang lalu. Untuk mengetahui perkembangan manusia sejak awal kehidupannya,
kita perlu mempelajari terlebih dahulu periodisasi atau pembabakan zaman di
muka bumi. Pembabakan itu dapat dilakukan secara geologis, arkeologis dan
perkembangan kehidupan manusia.
a.
Periodisasi
secara Geologis.
Pada zaman dahulu keadaan bumi tidak seperti
sekarang. Sebelum adanya kehidupan, bumi mengalami perubahan – perubahan.
Awalnya bumi dalam keadaan panas dan pijar sehingga tidak ada satu makhluk
hidup yang mampu hidup. Kemudian bumi mendingin dan terbentuklah kerak atau
kulit bumi. Makhluk hidup mulai ada sejalan dengan semakin mendinginnya bumi.
Proses perubahan bumi terbagi atas
beberapa fase atau zaman. Perubahan dari satu zaman ke zaman berikutnya memakan
waktu yang lama, sampai jutaan tahun. Menurut
para ahli geologi, sejarah perkembangan bumi terbagi menjadi empat (4) periode,
yaitu :
1. Zaman
Arkaikum.
2. Zaman
Paleozoikum.
3. Zaman
Mesozoikum.
4. Zaman
Neozoikum atau Kenozoikum.
Zaman
Neozoikum ini terbagi dalam dua bagian yaitu :
1. Zaman
Tertier.
2. Zaman
Kwartier.
Pada zaman Kwartier inilah mulai ada
tanda – tanda kehidupan manusia. Periodisasi
sejarah perkembangan bumi secara geologis, diantaranya :
1.
Zaman
Arkaikum.
Zaman Arkaikum merupakan zaman tertua.
Zaman ini berlangsung kira – kira sejak 2.500 Juta tahun yang lalu. Pada waktu
itu kulit bumi masih sangat panas, sehingga belum terdapat kehidupan diatasnya.
2.
Zaman
Paleozoikum.
Zaman kehidupan tua, berlangsung kira –
kira sejak 340 Juta tahun yang lalu. Zaman ini sudah ditandai dengan menculnya
tanda – tanda kehidupan, antara lain munculnya binatang – binatang kecil yang
tidak bertulang punggung, berbagai jenis ikan, amfibi dan reftil.
3.
Zaman
Mesozoikum.
Zaman kehidupan pertengahan, berlangsung
sejak kira – kira 140 juta tahun yang lalu. Pada zaman ini, kehidupan di bumi
makin berkembang. Binatang – binatang mencapai bentuk tubuh yang besar sekali.
Kita mengenalnya sebagai Dinosaurus. Disamping itu, juga mulai muncul berbagai
jenis burung. Zaman Mesozoikum disebut pula dengan zaman reptile karena pada
zaman ini jenis binatang reptile yang paling banyak ditemukan.
4.
Neozoikum
atau Kenozoikum.
Zaman kehidupan baru, berlangsung sejak
kira – kira 60 Juta tahun yang lalu. Zaman ini dibagi menjadi dua, yaitu :
a.
Zaman
Tertier.
Pada zaman tertier, jenis – jenis reptile
besar mulai punah dan bumi umumnya dikuasai oleh hewan – hewan besar yang
menyusui.
Contohnya adalah jenis gajah purba
(Mammuthus) yang pernah hidup di Amerika Utara dan Eropa Utara.
b.
Zaman
Kuartier.
Zaman Kuartier berlangsung sejak kira –
kira 3 juta tahun yang lalu. Zaman ini sangat penting bagi kita, karena
merupakan awal kehidupan manusia pertama kali di muka bumi.
b.
Periodisasi
secara Arkeologis.
Periodisasi secara Arkeologis didasarkan
atas hasil – hasil temuan benda – benda peninggalan yang dihasilkan oleh
manusia yang hidup pada masa praaksara. Berdasarkan
penelitian terhadap benda – benda tersebut, masa praaksara dibedakan menjadi
dua (2), yaitu :
1.
Zaman
Batu.
Zaman Batu adalah zaman ketika sebagian
besar perkakas penunjang kehidupan manusia terbuat dari batu. Berdasarkan hasil
temuan alat – alat yang digunakan dan dari cara pengerjaannya, zaman batu dibagi menjadi tiga (3), yaitu :
a.
Paleolithikum.
Paleolithikum berasal dari kata “Palaeo” artinya tua dan Lithos yang
artinya batu sehingga zaman ini disebut Zaman Batu Tua. Hasil kebudayaannya
banyak ditemukan di daerah Pacitan dan Ngandong Jawa Timur. Untuk membedakan
temuan benda – benda praaksara di kedua tempat tersebut, para arkeolog sepakat
menyebutnya sebagai kebudayaan Pacitan dan kebudayaan Ngandong.
Zaman Batu Tua diperkirakan berlangsung
kurang lebih 600 ribu tahun silam. Kehidupan manusia masih sangat sederhana,
hidup berpindah – pindah (Nomaden). Mereka memperoleh makanan dengan cara
berburu, mengumpulkan buah – buahan, umbi – umbian serta menangkap ikan. Alat –
alat yang digunakan pada zaman ini terbuat dari batu yang masih kasar dan belum
diasah, seperti kapak perimbas atau alat serpih yang digunakan untuk menguliti
hewan buruan, mengiris daging atau memotong umbi – umbian.
b.
Mesolithikum.
Mesolithikum berasal dari kata “Meso” yang artinya tengah dan “Lithos”
yang artinya batu, sehingga zaman ini dapat di sebut Zaman Batu Tengah. Hasil
kebudayaan Batu Tengah sudah lebih maju apabila dibandingkan hasil kebudayaan
Zaman Paleolithikum (Batu Tua). Pada
zaman ini, manusia sudah ada yang hidup menetap sehingga kebudayaan yang
menjadi ciri dari zaman ini adalah :
1.
Kebudayaan
Kjokkenmoddinger.
Kjokkenmoddinger adalah istilah yang
berasal dari bahasa Denmark, yaitu “Kjokken” artinya dapur dan “Modding” artinya sampah. Jadi,
Kjokkenmoddinger arti sebenarnya adalah Sampah Dapur. Kjokkenmoddinger adalah
timbunan kulit kerang dan siput yang menggunung dan sudah menjadi fosil.
Kjokkenmoddinger ditemukan di sepanjang pantai timur Sumatra, yakni antara
Langsa dan Medan. Dari timbunan itu, ditemukan Kapak Genggam yang ternyata berbeda
dengan kapak genggam Paleolithikum. Kapak genggam yang ditemukan tersebut
dinamakan dengan pebble atau kapak Sumatra sesuai dengan lokasi penemuannya.
Kapak Sumatra ini bentuknya sudah lebih baik dan mulai halus. Selain itu,
ditemukan pula sejenis kapak Pendek dan sejenis Batu Pipisan (Batu – batu alat
penggiling)
2.
Kebudayaan
Abris Sous Roche.
Abris Sous Roche (abris = tunggal, sous
= dalam, roche = gua) maksudnya adalah gua – gua yang dijadikan tempat tinggal
manusia purba yang berfungsi sebagai tempat perlindungan dari cuaca dan
binatang buas. Alat – alat yang ditemukan pada gua tersebut antara lain alat –
alat dari batu seperti ujung panah, flakes, batu pipisan serta alat – alat dari
tulang dan tanduk rusa. Kebudayaan abris sous roche ini banyak ditemukan
misalnya di Besuki, Bojonegoro juga di daerah Sulawesi Selatan.
c.
Neolithikum.
Neolithikum berasal dari kata “Neo” yang artinya baru dan Lithos yang artinya batu. Neolithikum
berarti zaman batu baru. Pada zaman ini telah terjadi perubahan mendasar pada
kehidupan masyarakat praaksara. Mereka mulai hidup menetap dan mampu menghasilkan
bahan makanan semdiri melalui kegiatan bercocok tanam. Hasil kebudayaan yang terkenal dari zaman ini adalah :
1.
Kapak
Persegi.
Kapak Persegi bentuknya persegi panjang
dan ada juga yang berbentuk trapezium. Kapak persegi ada yang berukuran besar,
ada pula yang berukuran kecil. Kapak berukuran besar disebut dengan beliung dan
fungsinya sebagai cangkul. Adapun yang berukuran kecil disebut Tarah atau Tatah
dan fungsinya sebagai alat pahat.
2.
Kapak
Lonjong.
Kapak lonjong bentuknya lonjong. Pada
ujung yang lancip ditempatkan tangkai dan pada bagian ujung yang lain diasah
sehingga tajam. Kapak Lonjong ada yang berukuran besar da nada juga yang kecil.
Kapak Lonjong berukuran besar disebut dengan Walzenbeil dan yang kecil disebut
Kleinbeil. Fungsi Kapak Lonjong sama dengan Kapak Persegi.
Selain kapak persegi dan kapak Lonjong,
pada Zaman Neolithikum juga terdapat barang – barang yang lain, seperti
perhiasan, gerabah dan pakaian. Perhiasan yang banyak ditemukan umumnya terbuat
dari batu dan kulit kerang. Berikut ini adalah gambar perhiasan yang terbuat
dari batu.
d.
Tradisi
Megalithic.
Megalitihik berasal dari kata Mega yang artinya besar dan Lithos yang artinya batu. Megalithic
berarti batu besar. Jadi yang dimaksud dengan tradisi megalithic adalah
pendirian bangunan dari batu yang berukuran besar. Tradisi ini muncul pada
zaman batu dan erat kaitannya dengan kepercayaan yang berkembang pada saat itu,
yaitu pemujaan terhadap roh nenek moyang.
Jenis
– jenis bangunan Megalithik, antara lain sebagai berikut :
1.
Menhir.
Adalah bangunan berupa batu tegak atau
tugu yang berfungsi sebagai tempat pemujaan roh nenek moyang atau tanda
peringatan untuk orang yang telah meninggal.
2.
Dolmen.
Adalah bangunan berupa meja batu,
terdiri atas batu lebar yang ditopang oleh beberapa batu yang lain. Dolmen
berfungsi sebagai tempat persembahan untuk memuja arwah leluhur. Di samping
sebagai tempat pemujaan, dolmen juga berfungsi sebagai pelinggih, tempat duduk
untuk kepala suku atau raja.
3.
Kubur
Peti Batu.
Adalah tempat menyimpan mayat. Kubur
peti batu ini dibentuk dari enam buah papan batu dan sebuah penutup peti. Papan
– papan batu itu disusun secara langsung
dalam lubang yang telah disiapkan terlebih dahulu dan biasanya diletakkan
membujur kearah sungai atau gunung.
4.
Waruga.
Adalah peti kubur batu dalam ukuran
kecil. Bentuknya kubus dan bulat. Waruga banyak ditemukan di Sulawesi Tengah.
5.
Sarkofagus.
Adalah bangunan berupa kubur batu yang
berbentuk seperti lesung dan diberi tutup. Sarkofagus banyak ditemukan di
daerah Bali.
6.
Punden
Berundak.
Adalah bangunan bertingkat yang
dihubungkan tanjakan kecil. Punden berundak berfngsi sebagai tempat pemujaan
terhadap roh nenek moyang.
7.
Patung.
Bentuk patung masih sangat sederhana.
Umumnya berbentuk binatang atau manusia.
2.
Zaman
Logam.
Sebagai perkembangan dari zaman batu,
manusia masuk ke zaman logam. Pada zaman ini, manusia tidak hanya menggunakan
bahan – bahan dari batu untuk membuat alat – alat kehidupannya, tetapi juga
mempergunakan bahan dari logam, yaitu perunggu dan besi. Menurut
perkembangannya, zaman logam dibedakan menjadi tiga (3), yaitu :
a. Zaman
Perunggu.
b. Zaman
Tembaga.
c. Zaman
Besi.
Indonesia hanya mengalami dua zaman
logam, yaitu zaman perunggu dan zaman besi. Benda – benda yang dihasilkan pada zaman Logam antara lain adalah
a. Kapak
Corong, yaitu kapak yang menyerupai corong.
b. Nekara.
c. Moko.
d. Bejana
perunggu.
e. Manik
– manik.
f. Cendrasa
(Kapak sepatu)
Berikut ini adalah beberapa benda
peninggalan zaman logam di Indonesia.
c.
Periodisasi
Berdasarkan Perkembangan Kehidupan.
Periodisasi ini didasarkan atas
perkembangan kehidupan manusia praaksara. Berdasarkan hal tersebut, maka masa
praaksara dapat dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu :
1.
Masa
Berburu dan Mengumpulkan Makanan.
Masa berburu makanan dibagi menjadi dua
tingkat yaitu :
a.
Masa
Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Sederhana.
Masa ini diperkirakan semasa zaman
Paleolithikum. Manusia yang hidup pada masa ini masih rendah tingkat
peradabannya. Mereka hidup mengembara, pindah dari tempat yang satu ke tempat
yang lain sebagai pemburu binatang dan penangkap ikan. Disamping itu, mereka
juga meramu, yakni mencari dan mengumpulkan makanan. Jenis makanan yang
dikumpulkan misalnya ubi – ubian, buah – buahan dan daun – daunan.
a. Kehidupan Ekonomi.
Kehidupan manusia pada masa ini masih
sangat tergantung pada alam. Kebutuhan makanan dipenuhi dengan cara berburu
hewan dan mengumpulkan umbi – umbian, buah – buahan serta dedaunan yang
ditemukan di sekitar lingkungan mereka. Jika sumber makanan di sekitar tempat
mereka menipis atau sudah habis, mereka berpindah ke tempat lain.
b.
Kehidupan
Sosial.
Sesuai dengan cara memenuhi kebutuhan,
manusia pada masa ini hidupnya tidak menetap. Mereka selalu berpindah – pindah
tempat mencari tempat tinggal baru yang banyak terdapat binatang buruan dan
bahan makanan. Mereka juga mencari tempat – tempat yang ada airnya. Tempat yang
mereka pilih ialah di padang – padang rumput diselingi semak belukar yang
sering dilalui binatang buruan. Kadang – kadang mereka memilih tempat tinggal
di tepi pantai, sebab disitu mereka dapat mencari kerang dan binatang –
binatang laut lainnya.
Manusia pada masa berburu dan
mengumpulkan makanan tingkat sederhana hidup secara berkelompok yang tersusun
dari keluarga – keluarga kecil. Anggota kelompok yang laki – laki melakukan
perburuan dan yang perempuan mengumpulkan makanan dari tumbuh – tumbuhan serta
hewan – hewan kecil.
c.
Kehidupan
Budaya.
Pada masa ini, manusia sudah mampu
membuat alat – alat sederhana dari batu atau tulang dan kayu. Alat – alat yang
dibuat masih berbentuk kasar. Alat alat
tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
1.
Alat
– alat batu Inti
Terdiri dari kapak perimbas, kapak
penetak, pahat genggam dan kapak genggam.
2.
Alat
serpih
Digunakan untuk pisau, peraut, gurdi,
mata panah dan untuk menguliti umbi – umbian.
3.
Alat
dari tulang dan kayu.
b.
Masa
Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Lanjut.
Masa ini diperkirakan semasa zaman
Mesolithikum. Kehidupan manusia pada masa ini sudah mengalami perkembangan
dibandingkan dengan masa sebelumnya. Manusia mulai hidup menetap walaupun hanya
untuk sementara waktu dan mulai mengenal cara bercocok tanam sederhana. Selain
itu, tampak kegiatan – kegiatan manusia yang menghasilkan sesuatu yang belum
dicapai pada masa sebelumnya seperti lukisan di dinding gua atau dinding
karang.
a.
Kehidupan
Ekonomi.
Manusia pada masa berburu dan
mengumpulkan makanan tingkat lanjut sudah mengenal cara bercocok tanam dengan
system berladang. Caranya, yaitu menebang hutan, kemudian membersihkan dan
menanaminya. Beberapa kali tanah lading itu dipergunakan dan setelah dirasakan
kesuburannya berkurang, maka pindah ke tempat lain. Selain berladang, mereka
juga memelihara dan mengembangbiakkan binatang.
b.
Kehidupan
Sosial.
Kehidupan manusia pada masa ini masih
dipengaruhi oleh cara hidup pada masa sebelumnya. Mereka masih melakukan
perburuan hewan, menangkap ikan, mencari kerang dan mengumpulkan makanan dari
lingkungan di sekitarnya. Meskipun demikian, kehidupan manusia mengalami
perubahan yang besar. Manusia secara berkelompok mulai hidup menetap dengan
memilih gua sebagai tempat tinggalnya. Biasanya gua yang dipilih adalah gua
yang letaknya cukup tinggi, yaitu di lereng bukit dan dekat dengan mata air.
c.
Kehidupan
Budaya.
Selama bertempat tinggal di gua, mereka
melukiskan sesuatu di dinding gua yang menggambarkan suatu pengalaman,
perjuangan dan harapan hidup. Lukisan – lukisan ini dibuat dengan cara
menggores pada dinding atau dengan memberi warna merah, hitam dan putih.
Bentuknya ada berupa gambar tangan, binatang atau bentuk lainnya.
Lukisan dinding gua menandakan berkembangnya
kepercayaan manusia pada masa itu. Misalnya lukisan cap tangan dengan latar
belakang warna merah mengandung arti kekuatan pelindung untuk mencegah roh
jahat dan cap – cap tangan yang jari – jarinya tidak lengkap dianggap sebagai
tanda berkabung.
Pada masa ini, kemampuan manusia membuat
alat – alat atau perkakas mengalami kemajuan. Alat – alat batu yang dibuat
bentuknya lebih halus daripada masa sebelumnya. Alat – alat tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
1.
Kapak
Sumatra.
Yaitu batu kerakal yang dibelah tengah
sehingga satu sisinya cembung halus dan sisi lainnya kasar.
2.
Alat
Tumpang Sampung.
Yaitu alat yang terbuat dari tulang dan
tanduk digunakan sebagai penggali umbi – umbian.
2.
Masa
bercocok Tanam.
Setelah tahap hidup berburu dan
mengumpulkan makanan dilampaui, manusia memasuki suatu masa kehidupan yang
disebut masa bercocok tanam. Masa bercocok tanam diperkirakan semasa dengan
zaman Neolithikum. Pada masa ini, peradaban manusia sudah mencapai tingkatan
yang cukup tinggi. Manusia sudah memiliki kemampuan mengolah alam untuk
memenuhi kebutuhan hidup dengan bercocok tanam dan mengembangbiakkan binatang
ternak. Manusia sudah hidup menetap mengumpulkan makanan. Mereka hidup menetap
karena persediaan makanan sudah tercukupi.
a.
Kehidupan
Ekonomi.
Pada masa bercocok tanam, manusia tidak
lagi sepenuhnya bergantung pada alam. Manusia sudah mampu mengolah alam untuk
memenuhi kebutuhan hidup. Kebutuhan makanan dipenuhi dengan cara membabat hutan
dan semak belukar untuk ditanami berbagai jenis tanaman sehingga terciptalah
lading – lading yang memberikan hasil pertanian. Selain bercocok tanam, mereka
juga mengembangbiakan binatang ternak seperti ayam, kerbau dan hewan ternak
lainnya. Meskipun sudah bercocok tanam dan memelihara hewan ternak, kegiatan
berburu dan mengumpulkan hasil hutan masih tetap dilakukan.
Manusia pada masa bercocok tanam
diperkirakan sudah melakukan kegiatan perdagangan yang bersifat Barter. Barang
yang dipertukarkan pada waktu itu ialah hasil – hasil cocok tanam, hasil kerajinan
tangan seperti gerabah dan beliung atau hasil laut berupa ikan yang
dikeringkan. Ikan laut yang dihasilkan oleh penduduk pantai sangat diperlukan
oleh mereka yang bertempat tinggal di pedalaman.
b.
Kehidupan
Sosial.
Hidup menetap pada masa bercocok tanam
memberi kesempatan bagi manusia untuk menata kehidupan secara teratur. Mereka
hidup menetap di suatu tempat secara berkelompok dan membentuk masyarakat
perkampungan. Perkampungan pada masa bercocok tanam terdiri atas tempat tinggal
sederhana yang didiami oleh beberapa keluarga dan dipimpin oleh kepala kampong.
Biasanya kedudukan sebagai kepala kampong dijabat oleh orang yang paling tua
dan berwibawa. Kepala kampong merupakan tokoh yang disegani, dihormati dan
ditaati oleh penduduk kampong yang dipimpinnya.
Kegiatan – kegiatan dalam kehidupan
perkampungan yang bertujuan untuk mencukupi kebutuhan bersama mulai diatur dan
dibagi antar anggota masyarakat. Kegiatan yang banyak menghabiskan tenaga seperti,
membabat hutan, menyiapkan lading untuk ditanami, membangun rumah atau membuat
perahu dilakukan oleh laki – laki. Adapun perempuan melakukan kegiatan menabur
benih di lading yang sudah disiapkan, merawat rumah dan kegiatan lain yang
tidak memerlukan tenaga besar.
c.
Kehidupan
Budaya.
Pada masa bercocok tanam, manusia
semakin mahir membuat berbagai alat atau perkakas. Alat – alat yang dihasilkan
sudah dibuat halus dan fungsinya beraneka ragam. Ada yang berfungsi untuk
kegiatan sehari – hari, ada yang berfungsi sebagai perhiasan, ada pula yang
berfungsi sebagai alat upacara keagamaan. Alat – alat tersebut antara lain
sebagai berikut :
1. Kapak
Persegi digunakan mengerjakan kayu, menggarap tanah dan alat upacara keagamaan.
2. Kapak
Lonjong digunakan sebagai cangkul untuk menggarap tanah dan sebagai kapak
biasa.
3. Gerabah
4. Alat
pemukul kulit kayu digunakan untuk memukul – mukul kulit kayu hingga halus.
5. Perhiasan
berupa gelang dari batu dan kulit kerang.
Pada masa bercocok tanam, berkembang
kepercayaan bahwa roh seseorang tidak lenyap pada saat meninggal dunia. Roh dianggap
mempunyai kehidupan dialamnya sendiri. Oleh karena itu, diadakan upacara pada
waktu penguburan. Orang yang meninggal dibekali bermacam – macam barang
keperluan sehari – hari, seperti perhiasan dan periuk yang dikubur bersama –
sama. Hal ini dimaksudkan agar perjalanan orang yang meninggal menuju alam
arwah dan kehidupan selanjutnya terjamin sebaik – baiknya.
Pada masa ini, mulai berkembang pula
tradisi pendirian bangunan – bangunan megalithic (Bangunan besar dari batu). Tradisi
ini didasari oleh kepercayaan akan adanya hubungan antara yang hidup dan yang
mati, terutama kepercayaan akan adanya pengaruh kuat dari orang yang telah mati
terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanaman. Jasa seorang kerabat
yang telah meninggal dunia diabadikan dengan mendirikan bangunan batu besar. Bangunan
ini kemudian menjadi media penghormatan, tempat singgah dan menjadi lambang
bagi orang yang meninggal tersebut.
3. Masa Perundagian.
Masa perundagian merupakan akhir masa
praaksara di Indonesia. Kata Perundagian berasal dari bahasa Bali, yaitu Undagi
yang artinya adalah seseorang atau sekelompok orang atau segolongan orang yang
mempunyai kepandaian atau keterampilan jenis usaha tertentu, misalnya pembuatan
gerabah, pembuatan perhiasan atau pembuatan sampan.
Masa perundagian diperkirakan semasa
dengan zaman perunggu. Pada masa ini, peradaban manusia sudah maju
tingkatannya. Teknologi pembuatan alat – alat atau perkakas jauh lebih
tinggi dibandingkan dengan masa sebelumnya.
a.
Kehidupan
Ekonomi.
Masyarakat pada masa perundagian telah
mampu mengatur kehidupannya. Kegiatan kehidupan yang mereka lakukan tidak lagi
sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup, melainkan untuk meningkatkan
kesejahteraan. Kegiatan pertanian di lading dan sawah masih tetap dilakukan. Pengaturan
air dilakukan agar kegiatan pertanian tidak sepenuhnya bergantung pada hujan. Hasil
pertanian disimpan untuk masa kering dan mungkin juga untuk diperdagangkan ke
daerah lain. Kegiatan peternakan juga turut berkembang, hewan ternak yang
dipelihara lebih beragam dari masa sebelumnya. Masyarakat telah mampu beternak
kuda dan berbagai jenis unggas.
Munculnya golongan masyarakat yang memiliki
keterampilan tertentu menyebabkan teknologi berkembang pesat. Seiring kemajuan
yang dicapai, terjadi peningkatan kegiatan perdagangan. Pada masa ini
perdagangan masih bersifat barter, namun telah menjangkau tempat – tempat yang
jauh, yakni antar pulau. Barang – barang yang dipertukarkan semakin beragam,
seperti alat pertanian, perlengkapan upacara dan hasil kerajinan.
Kegiatan perdagangan antar pulau pada
masa perundagian dibuktikan dengan ditemukannya Nekara di Selayar dan kepulauan
Kei yang dihiasi gambar – gambar binatang seperti gajah, merak dan harimau. Binatang
– binatang ini tidak ada di wilayah Indonesia bagian timur. Hal ini menunjukkan
bahwa Nekara tersebut berasal dari daerah Indonesia bagian barat.
b.
Kehidupan
Sosial.
Masyarakat pada masa perundagian hidup
menetap diperkampungan yang lebih besar dan lebih teratur. Perkampungan ini
terbentuk dari bersatunya beberapa kampong hingga jumlah kelompok penduduk
bertambah banyak. Masyarakat tersusun dalam kelompok yang beragam. Ada kelompok
petani, ada pedagang, ada pula kelompok undagi (Pengrajin / Tukang).
Dalam tata kehidupan yang sudah teratur,
berburu binatang liar seperti harimau dan kijang masih tetap dilakukan. Perburuan
ini selain untuk menambah mata pencaharian, juga dimaksudkan untuk menunjukkan
tingkat keberanian dan kegagahan dalam suatu lingkungan masyarakat.
c.
Kehidupan
Budaya.
Pada masa perundagian, manusia sudah
mahir membuat berbagai peralatan atau perkakas. Alat – alat yang dihasilkan
terbuat dari logam digunakan untuk bertani, bertukang, peralatan rumah tangga,
perhiasan dan sebagai alat perlengkapan upacara dan pemujaan.
Kepercayaan yang berkembang pada masa
ini melanjutkan kepercayaan pada masa sebelumnya. Masyarakat meyakini bahwa
arwah nenek moyang berpengaruh terhadap perjalanan hidup manusia dan
masyarakatnya. Oleh karena itu, arwah nenek moyang harus selalu dihormati
dengan melaksanakan berbgai upacara. Demikian pula kepada orang yang sudah meninggal,
mereka diberi penghormatan dengan diberi bekal kubur. Terlebih lagi jika orang
yang meninggal adalah orang yang terpandang atau mempunyai kedudukan dalam
masyarakat, maka diadakan upacara penguburan dengan memberikan bekal kubur yang
lengkap.
Pada masa ini, berbagai bidang seni
seperti seni lukis, seni ukir / pahat, seni patung dan seni bangunan (arsitektur)
mengalami perkembangan. Hal yang menunjukkan perkembangan ini diantaranya
adalah meningkatnya pemahatan arca dan pendirian bangunan batu untuk pemujaan.
3. Nilai – Nilai Budaya Masa Praaksara
di Indonesia.
Belajar
dari kehidupan manusia pada masa praaksara, maka terdapat nilai – nilai budaya
dan tradisi yang dapat kita ambil sebagai pelajaran dan suri teladan. Nilai –
nilai budaya dan tradisi ini masih terlihat dalam kehidupan masyarakat
Indonesia hingga saat ini. Nilai – nilai tersebut antara lain adalah sebagai
berikut :
a.
Nilai
Religius (Kepercayaan).
Masyarakat praaksara sudah memiliki
kepercayaan terhadap adanya kekuatan ghaib. Mereka mempercayai bahwa pohon
rimbun yang tinggi besar, hutan lebat, gua yang gelap, pantai, laut atau tempat
lainnya dipandang keramat karena ditempati oleh roh halus atau makhluk ghaib. Mereka
meyakini bahwa kejadian – kejadian alam seperti hujan, petir, banjir, gunung
meletus atau gempa bumi adalah akibat perbuatan roh halus atau makhluk ghaib. Untuk
menghindari malapetaka, maka roh halus atau makhluk ghaib harus selalu dipuja. Kepercayaan
terhadap roh halus ini disebut dengan animisme.
Selain percaya kepada roh halus, mereka
juga percaya bahwa benda – benda tertentu seperti kapak, mata tombak atau benda
lainnya memiliki kekuatan ghaib. Karena ada kekuatan ghaibnya, maka benda
tersebut harus dikeramatkan. Kepercayaan bahwa benda memiliki kekuatan ghaib
disebut Dinamisme.
b.
Nilai
Gotong Royong.
Masyarakat praaksara hidup secara
berkelompok. Mereka bergotong – royong untuk kepentingan bersama, contohnya
membangun rumah yang dilakukan secara bersama – sama. Budaya gotong – royong juga
dapat terlihat dari peninggalan mereka berupa bangunan – bangunan batu besar
yang dapat dipastikan dibangun secara gotong – royong.
c.
Nilai
Musyawarah.
Dalam kehidupan berkelompok. Masyarakat praaksara
telah mengembangkan nilai musyawarah. Hal ini dapat ditunjukkan dengan
dipilihnya pemimpin yang dianggap paling tua (sesepuh) yang mengatur masyarakat
dan memberikan keputusan untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi
bersama.
d.
Nilai
Keadilan.
Nilai keadilan sudah diterapkan dalam
kehidupan masyarakat pra aksara, yaitu adanya pembagian tugas sesuai dengan
kemampuan dan keahliannya. Tugas antara kaum laki – laki berbeda dengan kaum
perempuan. Hal ini mencerminkan sikap yang adil karena setiap orang akan
memperoleh hak dan kewajiban sesuai kemampuannya.
e.
Tradisi
Bercocok Tanam.
Salah satu cara yang dilakukan oleh
masyarakat praaksara untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah dengan bercocok
tanam. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya alat khas pertanian yang berupa
beliung persegi dan alat lainnya.
f.
Tradisi
Bahari (Pelayaran).
Masyarakat praaksara telah mengenal ilmu
astronomi. Ilmu ini sangat membantu pada saat mereka berlayar dari pulau ke
pulau dengan memakai perahu yang sangat sederhana. Perahu – perahu cadik
merupakan bentuk yang paling umum dikenal pada waktu itu. Perahu bercadik
adalah perahu yang kanan – kirinya dipasang alat dari bamboo dan kayu agar
perahunya tidak mudah oleng. Perahu bercadik memegang peranan yang sangat
penting dalam kehidupan masa praaksara, selain sebagai sarana lalu lintas
sungai dan laut, perahu ini juga berperan sebagai alat penyebaran budaya.
Dari uraian ini dapat diketahui bahwa
kehidupan masyarakat praaksara sudah memiliki kebudayaan yang cukup maju. Dengan
memiliki kebudayaan dan nilai – nilai tersebut, masyarakat praaksara di
Indonesia mampu mengadakan hubungan dan menerima pengaruh kebudayaan baru yang dating
dari luar tanpa mengorbankan kebudayaan sendiri.
4. Nenek Moyang bangsa Indonesia.
Paul
dan Fritz Sarasin (Sarasin bersaudara) mengemukakan bahwa penduduk asli
Indonesia adalah suatu ras yang berkulit gelap dan bertubuh kecil. Ras ini pada
awalnya mendiami Asia Bagian Tenggara yang saat itu masih bersatu sebagai
daratan pada zaman es atau periode glasial. Namun, setelah periode es berakhir
dan es mencair, maka dataran tersebut kemudian terpisah oleh lautan yaitu laut
China Selatan dan Laut Jawa. Akibatnya, daratan yang tadinya bersatu kemudian
terpisah menjadi daratan utama Asia dan Kepulauan Indonesia. Penduduk asli
tinggal di daerah pedalaman dan penduduk pendatang tinggal di daerah pesisir. Penduduk
asli inilah yang disebut sebagai suku bangsa Vedda oleh Sarasin.
Orang
vedda kemudian menyebar ke timur dan mendiami wilayah Papua, Sulawesi Selatan,
Kai, Seram, Timor Barat, Flores Barat dan terus ke timur sampai Kepulauan
Melanesia. Beberapa suku bangsa seperti Kubu, Lubu, Talang Mamak yang tinggal
di Sumatra dan Toala di Sulawesi merupakan penduduk tertua di Kepulauan
Indonesia. Mereka diyakini mempunyai hubungan erat dengan dan orang Vedda.
Ras
lain yang menghuni Kepulauan Indonesia adalah Proto Melayu dan Deutro Melayu. Ciri
– ciri fisik mereka adalah rambut lurus, kulit kuning kecoklat – coklatan dan
bermata sipit. Proto Melayu dan Deutro Melayu tiba di Kepulauan Indonesia dalam
dua gelombang kedatangan.
1.
Gelombang
Kedatangan Pertama.
Adalah Proto Melayu (Melayu Tua). Mereka
dianggap sebagai kelompok Melayu Polinesia yang bermigrasi dari wilayah Cina
Selatan (sekarang menjadi Provinsi Yunnan). Proto Melayu bermigrasi ke Wilayah Nusantara melalui dua jalur yaitu :
a.
Jalur
Barat.
Bermula dari Yunnan (Cina Bagian Selatan)
masuk ke Indochina, kemudian pulau – pulau di Indonesia.
b.
Jalur
Timur.
Jalur Timur melewati Kepulauan Ryukyu Jepang. Dari sana
mereka mengarungi lautan menuju Taiwan, Filipina, Sangir dan masuk Sulawesi.
Proto
Melayu membawa perkakas dari batu berupa kapak persegi dan kapak lonjong. Kapak
Persegi dibawa oleh Proto Melayu yang bermigrasi melalui Jalur Barat, sedangkan
Kapak Lonjong dibawa oleh Proto Melayu yang bermigrasi melalui Jalur Timur. Suku
bangsa Indonesia yang tergolong Proto Melayu ini, yaitu Mentawai, Dayak dan
Toraja.
2.
Gelombang
Kedatangan Kedua.
Adalah Deutro Melayu (Melayu Muda) yang
berasal dari Indochina bagian utara. Kedatangan Deutro – Melayu mendesak
keberadaan Proto Melayu kearah pedalaman. Mereka memperkenalkan perkakas dan
senjata yang terbuat dari besi atau logam. Mereka telah melakukan kegiatan
bercocok tanam. Padi yang banyak ditanam di Indonesia saat ini dibawa oleh
Deutro Melayu dari wilayah Assam Utara atau Birma Utara. Bangsa Deutro Melayu
mengembangkan peradaban dan kebudayaan yang lebih maju. Karena itu, mereka
berkembang menjadi sebagian besar suku – suku yang ada di Indonesia saat ini
seperti Melayu, Minang Jawa, Bugis dan lain – lain. Dalam perkembangan
selanjutnya, Proto Melayu dan Deutro Melayu berbaur sehingga sulit dibedakan.
Ras
lain yang juga terdapat di Kepulauan Indonesia adalah Ras Melanosoid. Mereka tersebar
di lautan Pasifik di pulau – pulau yang letaknya sebelah Timur Irian dan Benua
Australia. Kedatangan Ras Melanosoid diperkirakan pada saat zaman es berakhir. Pada
saat itu, Kepulauan Indonesia belum berpenghuni. Ras Melanosoid melakukan
perpindahan ke timur hingga ke Papua. Selanjutnya ke Benua Australia yang
sebelumnya merupakan satu kepulauan yang berhubungan dengan Papua. Pada perkembangan
selanjutnya, terjadi percampuran antara Ras Melanosoid dan Ras Melayu yang
menghasilkan keturunan Melanosoid – Melayu. Saat ini mereka merupakan penduduk
Nusa Tenggara Timur dan Maluku.
