Olahraga Binaraga : Pengertian, Sejarah , Perkembangan dan Cakupannya
Olahraga Binaraga : Pengertian,
Sejarah , Perkembangan dan Cakupannya
A. Pengertian Binaraga.
Binaraga
adalah kegiatan pembentukan tubuh yang melibatkan hipertropi otot intensif.
Dengan melakukan latihan beban dan diet protein tinggi secara rutin dan
intensif, seseorang dapat meningkatkan massa otot. Seseorang yang menekuni
aktivitas ini disebut binaragawan (pria) atau binaragawati (wanita).
Selain
menjadi gaya hidup untuk membentuk tubuh sekaligus menjaga kesehatan, binaraga
juga dapat dipertandingkan dalam berbagai kontes atau sebagai salah satu cabang
olahraga yang kerap dipertandingkan di pesta olahraga seperti Pekan Olahraga
Nasional atau Sea Games.
Dalam
kompetisi binaraga, para binaragawan memamerkan otot tubuh mereka dihadapan
dewan juri yang menilai penampilan fisik mereka. Dewan juri ini akan memberikan
nilai berdasarkan kriteria tertentu, seperti :
1. Massa
Otot.
2. Simetri
Tubuh.
3. Definisi
Otot.
4. Penampilan
yang mencakup koreografi, musik, dan tema.
Otot
tubuh ditonjolkan melalui serangkaian proses yang disebut "cutting
phase", diantaranya :
1. Serangkaian
kombinasi dari pengurangan kadar lemak tubuh.
2. Penggelapan
warna kulit (dilakukan dengan berjemur di bawah sinar matahari).
3. Pembaluran
minyak pada tubuh, ditambah efek penyinaran panggung yang akan membantu dewan
juri untuk melihat definisi otot secara lebih jelas.
Binaragawan
terkenal di dunia seperti Arnold Schwarzenegger, Charles Atlas, Steve Reeves,
Reg Park, Devin McKillop, dan Lou Ferrigno, sedangkan binaragawan terkenal di
Indonesia antara lain Levi Rumbewas, Asrelawandi, Ade Rai, dan Ricky Syamsuri.
Kini, juara tiga kali berturut-turut Jay Cutler adalah penyandang gelar Mr.
Olympia sebagai binaragawan teratas di dunia. Selain itu terdapat gelar
binaraga bergengsi lainnya seperti Mr. Universe.
Otoritas
binaraga dunia adalah International Federation of Body Building & Fitness
(IFBB), sedangkan otoritas binaraga nasional Indonesia adalah Persatuan Angkat
Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI).
B. Sejarah Binaraga.
Sesungguhnya
upaya membentuk tubuh dengan memperbesar masa otot melalui serangkaian latihan
fisik sudah lama dikenal sejak zaman kuno di Yunani sekitar abad ke-5 SM.
Herkules, pahlawan gagah dalam mitologi Yunani melambangkan maskulinitas dan
keperkasaan pria. Hal mungkin merupakan bentuk awal pemuliaan terhadap bentuk
fisik ideal dan simetris dalam kebudayaan dan kesenian Yunani, seperti tampak
dalam patung-patung Yunani klasik.
Olimpiade
kuno yang digelar di Olimpia mempertandingkan olahraga gulat, tinju, dan
atletik, merupakan bentuk budaya pemuliaan dan apresiasi terhadap bentuk tubuh
ideal. Para atlet berlaga tanpa busana dengan sebelumnya mambaluri tubuh mereka
dengan minyak dan bedak halus. Acara ini menjadi hiburan, tontonan, sumber
kekaguman, serta kebanggaan bagi masyarakat negara-kota Yunani kuno.
Tahun
awal perkembangan binaraga di dunia barat berlangsung pada kurun waktu 1880
hingga 1953. Binaraga belum benar-benar ada sebelum akhir abad ke-19 yang
dimulai oleh Eugen Sandow dari Prussia (kini Jerman utara), yang dihormati
sebagai "Bapak Binaraga Modern". Ia dianggap sebagai perintis
olahraga ini karena memperbolehkan penonton menyaksikan fisiknya dalam
"penampilan pamer otot". Sebelumnya pameran fisik pria telah lama
dilakukan melalui berbagai pertunjukan karnaval dan sirkus, akan tetapi lebih
bersifat memamerkan kekuatan tubuh seperti pertandingan gulat, mengangkat beban
berat, atau membengkokkan batang besi.
Sandow
adalah orang pertama yang berfokus pada penampilan otot itu sendiri. Sandow
adalah seorang "gracilian" yang sempurna. Istilah ini merujuk pada
standar "ideal" matematis untuk "fisik sempurna" yang
mendekati proporsi tubuh patung Yunani dan Romawi pada era klasik. Sandow
menggelar kontes binaraga perdana dunia pada 14 September 1901 yang disebut
"Great Competition" dan digelar di Royal Albert Hall, London,
Inggris. Sandow sendiri menjadi juri bersama Sir Charles Lawes, dan Sir Arthur
Conan Doyle. Kontes ini berlangsung sukses dengan dihadiri ratusan peminat
kontes fisik. Piala bagi juara adalah patung perunggu Sandow yang dibuat oleh
pematung Frederick Pomeroy. Juaranya adalah William L. Murray dari Nottingham.
Pada
tahun 1970-an, binaraga semakin terkenal dan mendapatkan publisitas besar
berkat penampilan Arnold Schwarzenegger dan rekan-rekannya dalam film Pumping
Iron produksi tahun 1977. Pada dekade ini pula organisasi International
Federation of Body Building & Fitness (IFBB) mulai mendominasi cabang
olahraga ini. Kini Mr. Olympia adalah kontes binaraga paling bergengsi di
dunia, dan sejak 1977, sang juara mendapat piala perunggu Sandow dan hadiah
uang.
C. Perkembangan Binaraga di Indonesia.
Di
Indonesia, binaraga mulai dikenal sejak tahun 1950-an setelah perang kemerdekaan
Indonesia. Kejuaraan binaraga Mr. Indonesia pernah digelar pada tahun 1952.
Binaraga pun dipertandingkan sebagai salah satu cabang olahraga SEA Games dan
Pekan Olahraga Nasional. Otoritas binaraga nasional Indonesia adalah Persatuan
Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI).
Dengan
berkembangnya dunia perfilman Indonesia pada dekade 1970-an hingga 1980-an,
film-film bergenre laga dan legenda menampilkan beberapa bintang film Indonesia
yang berfisik kekar dan gagah untuk berperan sebagai pahlawan. Bintang film
seperti Barry Prima, Advent Bangun, George Rudy, dan Willy Dozan, kerap
membintangi film laga, walaupun tidak menekuni binaraga tapi mereka memiliki
fisik yang cukup prima.
Atlet
binaraga terkenal Indonesia antara lain Levi Rumbewas, Asrelawandi, Ade Rai,
dan Ricky Syamsuri. Ade Rai cukup terkenal sebagai tokoh yang mempopulerkan
dunia fitness dan binaraga kepada masyarakat luas, ia kerap muncul sebagai
bintang iklan. Kontes binaraga di Indonesia misalnya Mr. Indonesia, Siswaraga
untuk amatir dan Pestaraga, disamping kejuaraan nasional binaraga yang digelar
oleh PABBSI.
Kini
dengan semakin banyaknya gelanggang olahraga, gym atau fitness center (pusat
kebugaran), banyak orang yang berolah raga angkat beban untuk mendapatkan
bentuk tubuh yang lebih ideal.
D. Cakupan Binaraga.
Binaraga memiliki 3 Cakupan,
diantaranya :
1.
Binaraga
Professional.
Dalam industri binaraga modern,
"binaragawan profesional" secara umum merujuk kepada binaragawan yang
telah memenangi kompetisi kualifikasi sebagai tingkat amatir dan mendapatkan
"pro card" dari IFBB. Seorang binaragawan profesional berhak
mengikuti kompetisi binaraga dunia, termasuk Arnold Classic dan the New York
Pro.
Merebut gelar di berbagai kontes
binaraga internasional dapat menjadikan mereka berhak untuk ikut serta dalam
Mr. Olympia, kontes binaraga paling bergengsi dan dianggap tertinggi di dunia
binaraga profesional. Gelar binaraga internasional bergengsi lainnya adalah Mr.
Universe.
2.
Binaraga
Alami.
Binaraga alami atau natural bodybuilding
merujuk pada kontes binaraga dimana peserta secara rutin harus lulus tes bebas
zat ilegal, barang siapa yang tidak lulus tes dilarang untuk mengikuti kontes
ini pada masa depan. Tes dilakukan melalui uji sampel urin. Zat-zat ilegal yang
dilarang antara lain Anabolik steroid, Prohormon, dan Diuretik.
3.
Pertumbuhan
Otot.
Binaragawan
umumnya menempuh tiga strategi untuk memaksimalkan hipertropi otot :
a. Latihan
beban melalui angkat berat dan latihan resistensi.
Latihan beban mengakibatkan sobekan
mikro pada jaringan otot yang dilatih; secara umum disebut mikrotrauma. Sobekan
kecil ini menimbulkan rasa pegal dan sakit setelah latihan yang disebut delayed
onset muscle soreness (DOMS) yaitu sakit otot yang tertunda. Tubuh kemudian
memperbaiki kerusakan otot ini dengan menumbuhkan jaringan otot baru untuk
menyambung sobekan kecil ini, hal inilah yang menyebabkan otot tumbuh membesar.
Secara normal, rasa sakit ini terasa
satu atau dua hari setelah latihan. Akan tetapi ketika otot tubuh telah mulai
terbiasa dengan latihan, maka rasa sakit itu cenderung berkurang.
Latihan
beban bertujuan membangun jaringan otot dengan memicu dua Jenis Hipertropi,
yaitu :
1.
Hipertropi
Sarkoplasmik.
Menciptakan otot yang lebih besar
sehingga menjadi tujuan latihan binaraga. Sarkoplasmik dipicu dengan
meningkatkan repetisi (perulangan).
2.
Hipertropi
Myofibrilar.
Lebih bersifat kelenturan dan kekuatan
atletis. Myofibrilar dipicu dengan mengangkat beban yang lebih berat.
Keduanya secara bersama dapat
meningkatkan ukuran dan kekuatan otot (dibandingkan dengan orang yang tidak
latihan beban sama sekali). Akan tetapi sifat penekanannya berbeda. Banyak
pelatih memilih untuk secara silih berganti menggunakan dua metode ini.
Hal ini dimaksudkan agar mencegah tubuh
beradaptasi (dengan mempertahankan beban lebih yang progresif), mungkin dengan
menekankan metode sesuai kebutuhan mereka, misalnya seorang binaragawan yang
terbiasa latihan dengan metode hipertropi sarkoplasmik dapat suatu waktu
beralih ke hipertropi myofibliar agar dapat melampaui batas plateau yakni suatu
titik dimana latihannya sudah membentur batas.
Latihan beban dilakukan dengan
mengangkat alat beban seperti dumbel dan barbel. Latihan binaraga ini biasanya
dilakukan di pusat kebugaran.
b. Nutrisi
khusus, yang melibatkan pola makan tinggi protein, serta tambahan suplemen jika
diperlukan.
1. Gizi.
Pertumbuhan otot tingkat tinggi,
pemulihan dan perbaikan otot seorang binaragawan memerlukan diet (pola makan)
khusus. Secara umum binaragawan memerlukan kalori lebih banyak dari orang biasa
serta memerlukan protein lebih banyak untuk membantu pembentukan massa otot.
Pengaturan pola makan ditambah latihan
kardiovaskuler untuk mengurangi lemak tubuh dilakukan menjelang pertandingan
untuk memperjelas definisi otot. Rasio energi makanan dari karbohidrat,
protein, dan lemak dapat berbeda-beda sesuai tujuan sang binaragawan.
2. Suplemen.
Peran penting gizi adalah membangun otot
dan menghilangkan lemak, untuk mencapai hal ini binaragawan kerap memerlukan
berbagai jenis makanan suplemen atau pelengkap. Berbagai produk digunakan untuk
meningkatkan ukuran otot, meningkatkan metabolisme untuk membakar lemak,
meningkatkan kesehatan sendi, dan mencegah kekurangan gizi.
Kreatin mungkin adalah salah satu
suplemen yang paling banyak digunakan. Suplemen lainnya antara lain Fat burner
untuk pembakar lemak, dan Amino untuk asupan protein.
c. Istirahat yang cukup, termasuk
tidur dan pemulihan di antara sesi latihan.
Meskipun stimulasi terhadap otot muncul
saat latihan di sasana kebugaran, pertumbuhan otot muncul kemudian saat
istirahat. Tanpa istirahat dan tidur yang cukup, otot tidak dapat pulih dan
tumbuh dengan baik.
Tidur delapan jam sehari dianjurkan bagi
binaragawan, meski kebutuhan tidur berbeda tiap orang. Sebagai tambahan banyak
atlet binaraga melakukan tidur siang untuk meningkatkan kemampuan tubuh
membangun otot, beberapa bahkan memecah jam tidurnya kedalam beberapa kali
tidur dalam sehari.








Comments
Post a Comment