Pengaruh Pengolahan dan Pemasakan Terhadap Nilai Gizi Bahan Pangan : Protein, Karbohidrat, dan Lemak
Pengaruh Pengolahan dan Pemasakan Terhadap
Nilai Gizi Bahan Pangan : Protein, Karbohidrat, dan Lemak
A. Pendahuluan.
Di
dalam bahan pangan zat gizi makro tidak berdiri sendiri, melainkan saling
berdampingan. Misalnya, dalam roti selain terkandung protein juga terkandung
protein dan lemak serta beberapa mikro nutrient lainnya.
Banyak
reaksi - reaksi kimia yang terjadi selama pengolahan pangan yang pada akhirnya
berpengaruh terhadap nilai gizi, keamanan dan penerimaannya. Pengolahan
berhubungan dengan semua perlakuan pada bahan pangan baik hewani maupun nabati
pasca panen.
1. Pengolahan
di satu sisi dapat menghasilkan produk pangan dengan sifat - sifat yang
diinginkan yaitu aman, bergizi dan dapat diterima dengan baik secara sensori.
2. Di
sisi lain, pengolahan juga dapat menimbulkan hal yang sebaliknya yaitu :
a. Menghasilkan
senyawa toksik sehingga produk menjadi kurang atau tidak aman.
b. Kehilangan
zat - zat gizi dan perubahan sifat sensori ke arah yang kurang disukai dan
kurang diterima seperti perubahan warna, tekstur, bau dan rasa yang kurang atau
tidak disukai.
Untuk
itu, dalam pengolahan pangan diperlukan pengetahuan tentang sifat bahan pangan
dan pengetahuan tentang gizinya.
B. Tujuan dan Efek / Pengaruh
Pengolahan Bahan Pangan.
Tujuan
pengolahan pada rumah tangga adalah untuk meningkatkan daya cerna dan
kenampakan pangan, memperoleh flavor atau meningkatkan palatibilitas bahan
pangan, dan merusak mikroorganisme dalam bahan pangan (pengawetan).
1.
Efek
Pengolahan terhadap Protein.
Dari semua proses pengolahan bahan
pangan, yang paling sering digunakan adalah pemanasan. Pemanasan protein dapat
menyebabkan terjadinya reaksi - reaksi, baik yang diharapkan maupun yang tidak
diharapkan. Reaksi - reaksi tersebut diantaranya
a. Denaturasi.
b. Kehilangan
aktivitas enzim.
c. Perubahan
kelarutan dan hidrasi.
d. Perubahan
warna.
e. Derivatisasi
residu asam amino.
f. Cross
- linking, pemutusan ikatan peptide.
g. Pembentukan
senyawa yang secara sensori aktif.
Reaksi ini dipengaruhi oleh suhu dan
lama pemanasan, pH, adanya oksidator, antioksidan, radikal, dan senyawa aktif
lainnya khususnya senyawa karbonil. Beberapa reaksi yang tidak diinginkan dapat
dikurangi. Penstabil seperti polifosfat dan sitrat akan mengikat Ca2+, dan ini
akan meningkatkan stabilitas panas protein whey pada pH netral. Laktosa yang
terdapat pada whey pada konsentrasi yang cukup dapat melindungi protein dari
denaturasi selama pengeringan semprot (spray drying).
a.
Denaturasi.
Kebanyakan protein dalam pangan
terdenaturasi jika dipanasakan pada suhu moderat (60-90oC) selama satu jam atau
kurang. Denaturasi adalah perubahan struktur protein dimana pada keadaan
terdenaturasi penuh, hanya struktur primer protein saja yang tersisa, protein
tidak lagi memiliki struktur sekunder, tersier dan quarterner. Akan tetapi,
belum terjadi pemutusan ikatan peptida pada kondisi terdenaturasi penuh ini.
Denaturasi protein yang berlebihan dapat
menyebabkan insolubilisasi yang dapat mempengaruhi sifat - sifat fungsional
protein dan tergantung pada kelarutannya. Dari segi gizi, denaturasi parsial
protein sering meningkatkan daya cerna dan ketersediaan biologisnya. Pemanasan
yang moderat dengan demikian dapat meningkatkan daya cerna protein tanpa
menghasilkan senyawa toksik.
Disamping itu, dengan pemanasan yang
moderat dapat menginaktivasi beberapa enzim seperti protease, lipase,
lipoksigenase, amilase, polifenoloksidase dan enzim oksidatif dan hidrolotik
lainnya. Jika gagal menginaktivasi enzim - enzim ini maka akan mengakibatkan
off - flavour, ketengikan, perubahan tekstur, dan perubahan warna bahan pangan
selama penyimpanan. Sebagai contoh, kacang-kacangan kaya enzim lipoksigenase.
Selama penghancuran bahan, untuk
mengisolasi protein atau lipidnya, dengan adanya oksigen enzim ini bekerja
sehingga dihasilkan senyawa hasil oksidasi lipid yang menyebabkan off - flavour.
Oleh karena itu, sering dilakukan inaktivasi enzim dengan menggunakan pemanasan
sebelum penghancuran. Sebagai tambahan, perlakuan panas yang moderat juga
berguna untuk menginaktivasi beberapa faktor antigizi seperti enzim antitripsin
dan leptin.
b.
Reaksi
Mailard Protein dengan Karbohidrat.
1.
Maillard.
Reaksi antara protein dengan gula
pereduksi merupakan sumber utama penyebab menurunnya nilai gizi protein pangan
selama pengolahan dan penyimpanan. Reaksi maillard ini dapat terjadi pada waktu
pembuatan (pembakaran) roti, produksi breakfast cereals (serpihan jagung,
beras, gandum, dll), dan pemanasan daging terutama bila terdapat bahan pangan
nabati.
Pada pembakaran roti, kehilangan zat
gizi yang cukup besar tersebut terutama terjadi pada bagian yang berwarna
coklat (crust) karena terjadinya reaksi dengan gula pereduksi yang dibentuk
selama proses fermentasi tetapi tidak habis digunakan oleh khamir dari ragi
roti.
Meskipun gula - gula nonreduksi
(misalnya sukrosa) tidak bereaksi dengan protein pada suhu rendah, tetapi pada
suhu tinggi ternyata dapat menimbulkan reaksi maillard, yang pada suhu tinggi
terjadi pemecahan ikatan glikosidik dari sukrosa dan menghasilkan glukosa dan
fruktosa.
Contoh lain adalah pada pengolahan susu
sapi dengan pemanasan karena susu merupakan bahan pangan berprotein tinggi yang
juga mengandung gula pereduksi (laktosa) dalam jumlah tinggi.
2.
Reasiminasi.
Pada pengolahan dengan menggunakan panas
yang tinggi, protein akan mengalami beberapa perubahan. Perubahan - perubahan ini termasuk :
a. Rasemisasi.
b. Hidrolisis.
c. Desulfurasi.
d. Deamidasi.
Kebanyakan perubahan kimia ini bersifat
ireversibel, dan beberapa reaksi dapat menghasilkan senyawa toksik. Pengolahan panas pada pH alkali
seperti pada pembuatan texturized foods dapat mengakibatkan rasemisasi parsial
dari residu L-asam amino menjadi D-asam amino. Laju rasemisasi residu
dipengaruhi oleh daya penarikan elektron dari sisi samping. Dengan demikian,
residu seperti Asp, Ser, Cys, Glu, Phe, Asn, dan Thr akan terasemisasi lebih
cepat dari residu asam amino lainnya. Laju rasemisasi juga dipengaruhi oleh
konsentrasi ion hidroksil, tetapi tidak tergantung pada konsentrasi protein itu
sendiri.
Sebagai tambahan, karbanion yang
terbentuk pada suhu alkali dapat mengalami reaksi â-eliminasi menghasilkan
dehidroalanin. Rasemisasi residu
asam amino dapat mengakibatkan penurunan daya cerna protein karena kurang mampu
dicerna oleh tubuh.
Kerugian akan semakin besar apabila yang
terasemisasi adalah asam amino esensial. Pemanasan protein pada pH alkali dapat
merusak beberapa residu asam amino seperti Arg, Ser, Thr dan Lys. Arg
terdekomposisi menjadi ornithine. Jika protein dipanaskan pada suhu sekitar 200oC,
seperti yang terjadi pada permukaan bahan pangan yang mengalami pemanggangan,
broiling, grilling, residu asam aminonya akan mengalami dekomposisi dan
pirolisis.
Beberapa hasil pirolisis yang diisolasi
dari daging panggang ternyata bersifat sangat mutagenik. Yang paling bersifat
mutagenik adalah dari pirolisis residu Trp dan Glu. Satu kelas komponen yaitu
imodazo quinoline (IQ) merupakan hasil kondensasi kreatinin, gula dan beberapa
asam amino tertentu seperti Gly, Thr, Al dan Lys, komponen ini juga toksik.
Senyawa - senyawa toksik ini akan jauh berkurang apabila pengolahan tidak
dilakukan secara berlebihan (suhu lebih rendah dan waktu yang lebih pendek).
2.
Efek
Pengolahan terhadap Karbohidrat.
Pemasakan karbohidrat diperlukan unutk
mendapatkan daya cerna pati yang tepat, karena karbohidrat merupakan sumber
kalori. Pemasakan juga membantu pelunakan dinding sel sayuran dan selanjutnya
memfasilitasi daya cerna protein. Bila pati dipanaskan, granula - granula pati
membengkak dan pecah dan pati tergalatinisasi. Pati masak lebih mudah dicerna
daripada pati mentah.
Dalam bahan pangan keberadaan
karbohidrat kadang kala tidak sendiri melainkan berdampingan dengan zat gizi
yang lain seperti protein dan lemak. Interaksi antara karbohidrat (gula) dengan
protein telah dibahas, seperti tersebut diatas. Bahan pangan yang dominan
kandungan karbohidratnya seperti singkong, ubi jalar, gula pasir, dll.
Dalam pengolahan yang melibatkan
pemanasan yang tinggi karbohidrat terutama gula akan mengalami karamelisasi
(pencoklatan non enzimatis). Warna karamel ini kadang - kadang justru
dikehendaki, karamelisasi yang berlebihan sebaliknya tidak diharapkan. Faktor
pengolahan juga sangat berpengaruh terhadap kandungan karbohidrat, terutama
seratnya. Beras giling sudah barang tentu memiliki kadar serat makanan dan
vitamin B1 (thiamin) yang lebih rendah dibandingkan dengan beras tumbuk.
Demikian juga pencucian beras yang
dilakukan berulang - ulang sebelum dimasak, akan sangat berperan dalam
menurunkan kadar serat. Pengolahan buah menjadi sari buah juga akan menurunkan
kadar serat, karena banyak serat akan terpisah pada saat proses penyaringan.
3.
Efek
Pengolahan terhadap Lemak.
Pemasakan yang biasa dilakukan pada
rumah tangga sedikit sekali berpengaruh terhadap kandungan lemak, tetapi
pemanasan dalam waktu lama seperti penggorengan untuk beberapa kali, maka asam
lemak esensial akan rusak dan terbentuk produk polimerisasi yang beracun. Lemak
yang dipanaskan berulangkali dapat menurunkan pertumbuhan pada tikus percobaan.
Dengan proses pemanasan, makanan akan
menjadi lebih awet, tekstur, aroma dan rasa lebih baik serta daya cerna
meningkat.salah satu komponen gizi yang dipengaruhi oleh prose pemanasan adalah
lemak. Akibat pemanasan daging maka lemak dalam daging akan mencair sehingga
menambah palatabilitas daging tersebut.hal ini disebabkan oleh pecahnya
komponen - komponen lemak menjadi produksi volatil seperti aldehid, keton,
alkohol, asam, dan hidrokarbon yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan
flavor.
Selama penggorengan bahan pangan dapat
terjadi perubahan-perubahan fisikokimiawi baik pada bahan pangan yang digoreng,
maupun minyak gorengnya. Apabila suhu penggorengannya lebih tinggi dari suhu
normal (168-196 oC) maka akan menyebabkan degradasi minyak goreng berlangsung
dengan cepat (antara lain titik asap menurun). Titik asap minyak goreng
tergantung pada kadar gliserol bebas. Titik asap adalah saat terbentuknya
akrolein yang tidak diinginkan dan dapat menimbulkan rasa gatal pada
tenggorokan. Lemak hewan (babi dan kambing) banyak mengandung asam lemak tidak
jenuh seperti oleat dan linoleat. Asam lemak ini dapat mengalami oksidasi,
sehingga timbul bau tengik pada daging.
Proses penggorengan pada suhu tinggi
dapat mempercepat proses oksidasi. Hasil pemecahan dan oksidasi ikatan rangkap
dari asam lemak tidak jenuh adalah asam lemak bebas yang merupakan sumber bau
tengik. Dengan adanya anti oksidan dalam lemak seperti vitamin E (tokoferol),
maka kecapatan proses oksidasi lemak akan berkurang. Sebaliknya dengan adanya prooksidan
seperti logam - logam berat (tembaga, besi, kobalt, dan mangan) serta logam
porfirin seperti pada mioglobin, klorofil, dan enzim lipoksidase maka lemak
akan dipercepat.
Kecepatan oksidasi berbanding lurus
dengan tingkat ketidakjenuhan asam lemak. Asam linoleat dengan 3 ikatan rangkap
akan lebih mudah teroksidasi daripada asam lemak linoleat dengan 2 ikatan
rangkapnya dan oleat dengan 1 ikatan rangkapnya. Pada minyak kedelai kurang
baik dijadikan minyak goreng, karena banyak mengandung linoleat. Sedangkan
minyak jagung baik digunakan sebagai minyak goreng, karena linoleatnya rendah.
Untuk mengatasi masalah pada minyak kedelai, maka dilakukan proses hidrgenasi
sebagian untuk menurunkan kadar asam linoleatnya.
Reaksi
- reaksi yang terjadi selama degradasi asam lemak didasarkan atas penguraian
asam lemak. Produk degradasi terbentuk menjadi dua :
1.
Hasil dekomposisi tidak menguap,
yang tetap terdapat dalam minyak dan diserap oleh bahan pangan yang digoreng.
2.
Hasil dekomposisi yang dapat
menguap, yang keluar bersama-sama uap pada waktu lemak dipanaskan.
Pembentukan
produk
yang tidak menguap sebagian besar disebabkan oleh otooksidasi, polimeriasai
termal, dan oksidasi termal dari asam lemak tidak jenuh yang terdapat pada
minyak goreng.
Reaksi
- reaksi minyak dibagi atas tiga tahap, yaitu :
1. Inisiasi.
2. Propagasi
(perambatan).
3. Terminasi
(penghentian).
Oksidasi dari hidroperoksida yang lebih
lanjut juga menghasilkan produk - produk degradasi dengan tiga tipe utama yaitu
pemecahan menjadi alkohol, aldehid, asam, dan hidrokarbon.
Dimana hal ini juga berkontribusi dalam
perubahan warna minyak goreng yang lebih gelap dan perubahan flavor, dehidrasi
membentuk keton, atau bentuk radikal bebas yang berbentuk dimer, trimer,
epksid, alkohol, dan hidrokarbon.
Seluruh komponen tersebut berkontribusi
terhadap kenaikan vuiskositas dan pembentukan fraksi NUAF (Nonurea Aduct
Forming). Fraksi NUAF yang merupakan derifat dari asam lemak yang tidak dapat
membentuk kompleks dengan urea, bersifat toksis bagi manusia. Pada dosis 2,5 %
dalam makanan, fraksi ini dapat mengakibatkan keracunan yang akut pada tikus
setelah tujuh hari masa percobaan. Jika minyak dipanaskan pada suhu tinggi
dengan adanya oksigen, disebut oksidasi thermal. Derajat ketidak jenuhan yang
diukur dengan bilangan iod, akan berkurang selama pemanasan, jumlah asam tak
berkonyugasi misalnya linoleat akan berkurang dan asam berkonyugasi (asam
linoleat berkonyugasi) bertambah sampai mencapai maksimum, dan kemudian
berkurang karena proses penguraian.
Proses pemanasan dapat menurunkan kadar
lemak bahan pangan. Demikian juga dengan asam lemaknya, baik esensial maupun
non esensial. Kandungan lemak daging sapi yang tidak dipanaskan (dimasak) rata -
rata mencapai 17,2 %, sedangkan jika dimasak dengan suhu 60 oC, kadar lemaknya
akan turun menjadi 11,2-13,2%. Adanya lemak dalam jumlah berlebihan dalam bahan
pangan kadang - kadang kurang dikehendaki.
Pada pengolahan pangan dengan teknik ekstrusi,
diinginkan kadar lemak yang rendah. Tepung yang kadar lemaknya telah diekstrak
sebelum proses ekstrusi akan menghasilkan produk yang mempunyai derajat
pengembangan yang lebih tinggi. Kompleks lemak dengan pati pada proses ekstrusi
akan menyebabkan penurunan derajat pengembangan.

Comments
Post a Comment